![]() |
"Bayi Rakyat" (1981-83)
oil/canvas, 90 x 120cm,
karya: Herri Soedjarwanto.
Koleksi Boss BNI... pindah
tangan ke kolektor di Amerika
Untuk berita terbaru tentang "Bayi
Rakyat"
|
"Kamu ini lho… hidup dan tinggal di Bali… tapi kok tidak melukis obyek Bali.. seperti pelukis lainnya ,..misalnya gadis Bali, tari Bali, Odalan.. dsb..??”.
”..Bagus..bagus..!..Sudah betul itu.. Kamu sudah kuasai
tehnik realism, kamu sudah punya karakter dan jati diri … segera saja keluar
dari sanggar. Sebab kalau terlalu lama di sana saya khawatir kamu nanti malah
jadi seperti Dullah....
Dan tinggal satu
lagi : ... betul seperti yang sudah kau rintis selama ini: kamu harus berpihak....pesan saya : Berpihaklah pada Rakyat Kecil..!! disitulah sumber kekuatanmu dan
kekuatan seniman pada umumnya..”.
Memang di periode awal-awal saya melukis, saya agak gelisah juga menyadari bahwa apa yang saya lukis "nyempal " (berbeda) dari tradisi seni lukis Dullah. Namun setelah pertemuan dengan Sudjojono (yang kemudian sering terjadi). Saya menjadi sadar ( tepatnya disadarkan) memang ada perbedaan besar dan mendasar antara saya dengan teman-teman lain di Sanggar Pejeng. Mereka ( termasuk yang paling senior sekalipun ), mempelajari tekhnik melukis Dullah dengan tujuan akhir mencapai seni lukis Dullah!! Sedangkan saya dengan sadar mempelajari tekhnik melukis Dullah, untuk bekal menemukan seni lukis saya sendiri, bukan untuk mencapai seni lukis Dullah.
Perwujudannya dalam karya tampak jelas berbeda sekali. Ketika masih sama-sama di Sanggar Pejeng (1977-1983), selagi murid-murid Dullah yang lain asyik melukis bunga, jambu, wajah kakek nenek, gadis, bocah, penari Bali (yang hampir kesemuanya setengah badan), tafril kampung, sawah, dan di seputar objek-objek itu saja, (dominan obyek seni-lukis Dullah), kanvas-kanvas saya sudah dipenuhi thema realisme social. Dengan komposisi “rumit” narative yang tentu saja "nyempal " (berbeda) dari tema “tradisional” khas Dullah tersebut. Ringkasnya, ketika yang lain cari gampangnya saja dalam melukis, saya justru melukis obyek dan thema realism social yang ‘sulit’ rumit, serius dan berat.
Dan pada kenyataannya dalam perjalanan karier melukis, saya baru mulai tertarik untuk kadang -kadang melukis obyek -obyek realisme turistik Bali ( sebut saja begitu)... setelah berjalan kurang lebih 5 - 6 tahun kemudian, justru setelah tak menetap di Bali ( tapi masih rutin bolak balik Solo-Bali )....
Nampak si bayi dalam dekapan dan ditunggui kakaknya yang masih kecil-kecil didalam ruang dapur yang runtuh sebagian temboknya. Di sekitarnya berserak alat-alat dapur bekas memasak. Di dekatnya nya seekor anjing kampung sedang mengintai kesempatan mencuri makan. Di luar , si ibu sedang berangkat , menyunggi meja terbalik di kepalanya. Di meja itu diletakkan panci masakan, piring , gelas, periuk, kompor dan alat berjualan lainnya.
Lihat Lukisan/tulisan yang terkait topik ini:
![]() |
"Sudut Desa Pejeng, Bali" karya: Herri Soedjarwanto |
CATATAN: Obyek yang kulukis diatas adalah sebuah kejadian nyata yang kulihat dengan mata kepala sendiri, setiap hari, selama satu bulan penuh..
Ceritanya aku sedang membuat lukisan pemandangan alam “Sudut Desa Pejeng, Bali”. Lukisan Desa Pejeng itu kukerjakan secara langsung di depan obyeknya setiap hari (jam 6-9 pagi) selama30 hari penuh. Nah… posisiku melukis, pas disebelah rumah si bayi itu. Beberapa hari setelah lukisan "Sudut Desa Pejeng" selesai, baru aku garap lukisan “Bayi Rakyat” tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tulis komentar, pertanyaan, usul / saran disini