Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label HERRI dan DULLAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HERRI dan DULLAH. Tampilkan semua postingan

"Dullah dan Lukisan Bung Karno yang Tak Selesai" .. dikisahkan oleh Herri kepada detikcom

Terkait dengan Pameran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan, yang berlangsung di Galeri Nasional sepanjang bulan Agustus 2016 .. detikcom menurunkan tulisan tentang Dullah, salah satu pelukis Istana yang karyanya dipamerkan .. Nara sumber:  Herri Soedjarwanto, Mikke Susanto (kurator dan pengajar FSR ISI Yogyakarta)  dan Tedjabayu (anak Sudjojono) ... Sila baca tuntas ... 
http://x.detik.com/detail/intermeso/20160727/Dullah-dan-Lukisan-Bung-Karno-yang-Tak-Selesai/index.php


Silahkan baca kisah-kisah lainnya tentang HERRI dan DULLAH di :
https://herri-solo.blogspot.co.id/search/label/HERRI%20dan%20DULLAH

Catatan 19 September : Kisah pelukis Dullah, .. Bung Karno dan Rapat Raksasa Ikada

Oleh: Herri Soedjarwanto , Pelukis Realis Indonesia .. asisten Dullah di Sanggar Pejeng Bali.

"Bung Karno, dalam Rapat Raksasa Ikada 1945" karya Herri Soedjarwanto 2014

Sedikitnya  ada dua peristiwa penting pada tanggal 19 September … kelahiran pelukis Dullah 19 September 1919… dan Rapat raksasa Ikada, 19 September 1945…  Secara kebetulan,  keduanya saling terkait.

‘Rapat Raksasa Ikada’ adalah suatu peristiwa penting pada masa Revolusi.  Dengan tokoh utamanya Bung Karno. Dullah adalah pelukis kesayangan Bung Karno.. Dullah sering menceritakan kisah  tentang  Rapat Raksasa Ikada ini kepada penulis yang waktu itu menjadi asistennya  dan  tinggal seatap dengannya di Sanggar Pejeng Bali.  

 Rapat Ikada  itu termasuk Peristiwa favorit Dullah karena (salah satu alasannya)  bertepatan dengan  tanggal kelahiran Dullah, yaitu 19 September.  Tak heran , ketika mempersiapkan Pameran di Jakarta 1979, Dullah bermaksud melukis "Rapat Raksasa Ikada" sebagai lukisan utamanya, dalam ukuran 200 X 350cm. 

Namun karena satu kejadian, (klik baca detikcom: era Suharto kok bikin Lukisan Bung Karno?)  lukisan tersebut  tak selesai pada saat pameran. Lukisan tersebut tetap dipamerkan meskipun baru tahap sketsa dengan sedikit warna dasar tipis dan sedikit wajah Bung Karno di pusat lukisan.
 Sampai saat Dullah meninggalpun (1996 .... 17 tahun kemudian), bahkan sampai sekarang,  lukisan tersebut masih tetap dalam posisi dan status seperti itu, tak pernah selesai. Meskipun  demikian lukisan itu tetap tergantung  abadi dengan megah  di dinding Museum Dullah, Solo. 
 
 
 
 
“Rapat Raksasa  Ikada 1945 ” karya Dullah 1979. (tak pernah selesai)
“ Wah .. Sayangnya  lukisan ini tidak pernah selesai”, kata seorang  pengunjung  Museum Dullah yang juga pecinta seni . “Apakah Mas Herri  bisa menyelesaikan  lukisan ini ? … maksud saya melukis ulang lukisan ini di kanvas lain,  sehingga selesai, menjadi seperti apa yang  Pak Dullah maksudkan? … dan apakah ada kendala  secara  etika  ?“ tanya beliau pada saya.

“Sebagai mantan asisten Dullah, tentu saya bisa , dan  saya pikir tak ada kendala secara etika . Karena …

Pertama : Sangat jelas bahwa saya tidak sedang mengcopy lukisan Dullah.. karena lukisan Dullah ini jelas terlihat  sama sekali belum jadi… baru mulai sket awal..sekitar 3 - 5% saja.

Kedua: “Lukisan ini dibuat Dullah berdasarkan foto dokumentasi  dari kementerian penerangan. Foto dokumentasi  tentang Rapat Raksasa Ikada ini sekarang sudah banyak dimuat dimana-mana , ada di buku sejarah, internet dan sebagainya. Foto ini sudah menjadi milik publik / domain public.. siapapun bisa menggunakannya untuk tujuan positif … apalagi untuk menambah perbendaharaan dokumentasi  sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan  RI . Jadi seandainya  tanpa lukisan Dullah sekalipun,  lukisan ini tetap bisa dibuat berdasarkan foto-foto dokumenter tersebut“.

Beberapa bulan kemudian, di tahun 2014 tuntas sudah lukisan “Bung Karno, Rapat Raksasa Ikada 1945” karya Herri Soedjarwanto. ###


Tentang Pelukis Dullah
Dullah adalah seorang seniman lukis Indonesia. Lahir di Solo, 1919 dan meninggal tahun 1996. Dia dijuluki "Pelukis Revolusi", karena ia banyak melukis peristiwa yang berkaitan dengan masa revolusi, ketika mempertahankan kemerdekaan Indonesia.  Dullah juga dijuluki pelukis Istana, karena kedekatannya dengan Presiden Soekarno. Selama 10 tahun (1950-1960) ia dipercaya untuk memelihara dan mengawasi benda-benda seni yang tersimpan di Istana Negara, sekaligus menjadi pelukis pribadi Bung Kamo. Ia juga dipercaya menyusun empat  jilid buku koleksi lukisan Bung Karno pada tahun 1956; dan 1959. Keempat jilid buku tersebut diterbitkan oleh Pusat Kesenian Rakyat di Beijing, Republik Rakyat China. Selain itu ia menjadi pengasuh Sanggar Pejeng yang bertempat di Puri bekas Istana kerajaan tertua di Bali. 

(III) Lukisan Palsu, dan.. Sistem Mengajar Dullah Dipertanyakan

(III) Sanggar Pejeng Antara Citra dan Realita.
Tanggapan untuk Hardi dan Agus Dermawan T di Majalah Trust & Visual Art
Lukisan realisme sosial, Anak Singkong, Herri Soedjarwanto
"Anak Singkong (Jurang)" 1982. Karya Herry.S ( Herri Soedjarwanto)
karya periode awal di Bali
lanjutkan baca, banyak contoh lukisan tahun awal
Seorang teman lama bersama beberapa kolektor menunjukkan dua majalah lama,  ‘Trust’ (18-24 April-2005) dan  ‘Visual Art’ (September-Oktober 2012).
“Nih lihat Her, orang diluar sana pada ribut, banyak lukisan Dullah palsu beredar.. Gimana tanggapanmu..?”  
“Lukisan palsu?  no komen … sebab kalau bicara blak-blakan ujungnya pasti  membuka borok teman sendiri. Lagi pula orang Solo banyak yang tahu kok, siapa-siapa yang terlibat pemalsuan, jadi tak perlu-lah tanya ke aku.“
“Oke.. ini bukan soal siapa-nya, … tapi mereka menyangka bahkan menuduh cara mengajar Dullah di Sanggar Pejeng itu salah, sehingga  melahirkan pemalsuan.  Jangan diam dong, kamu kan asisten Dullah dalam mengajar melukis di Sanggar Pejeng ??  Pasti paling tahu dong soal system pendidikan Dullah..?”

ARTIKEL MAJALAH TRUST
Judul :  “Asli atau Palsu Nyaris tak ada bedanya”. Disitu tertulis(pemberian nomor 1-5 disisipkan oleh Herri )

“….Hardi melihat, factor penyebab banyaknya pemalsuan lukisan Dullah adalah system pengajaran di sanggar Dullah sendiri. (1)

(II) Dullah, Herri Soedjarwanto dan Sanggar Pejeng .(update)

Riwayat  

Pelukis Dullah, Herri Soedjarwanto, Sanggar Pejeng
Dullah melukis "Kompi Widodo", Herri yang baru gabung
diminta menjadi modelnya. Sebelumnya ia juga jadi model
  beberapa figur terakhir lukisan Dullah "Jumpa di Tengah Kota"
( update foto, dokumen dan surat lain)
1970- Dullah mengajar praktek melukis di HBS (Himpunan Budaya Surakarta).
1973-Dullah mulai sering tinggal di Ubud Bali , dan diikuti oleh beberapa murid HBS.. Kok Poo , Inanta, Hok Lay dll..yg kerap disebut grup Semarang.
1974-Dari Ubud pindah ke Puri Pejeng, dan kemudian berdirilah Sanggar Pejeng.
1977 akhir,… Herri (19 tahun) berangkat ke Bali, mulai belajar pada Dullah dan  aktif di Sanggar Pejeng.

Saat Herri tiba di Pejeng, sudah ada murid-murid angkatan pertama yang telah belajar pada Dullah selama 7-8 tahun.  Usia mereka antara 30 sampai 40tahun.

(I) Sanggar Pejeng, antara Citra dan Realita


Sebuah pendahuluan

Dullah, Herri dan seorang model
Sanggar Pejeng , sanggarnya Dullah , adalah bagian tak terpisahkan dari perkembangan seni lukis realis Indonesia. Selama ini riwayat Sanggar Pejeng seolah dimonopoli oleh orang atau pihak tertentu saja , sehingga memunculkan citra tertentu yang tak sesuai realitanya. Seolah Dullah atau murid yang lain  tak punya hak bicara , atau memang sudah bicara tapi sengaja tak didengar.

 Pertanyaan yang ingin dijawab dalam rangkaian catatan ini meliputi:

-Apa tujuan Dullah mendirikan sanggar ? Apa saja yang diajarkan Dullah ? -Bagaimana sistem mengajar Dullah ??

Kisah unik dan nyata: Membanting pintu pelukis Dullah.!!

Pelukis Dullah+karyanya: "Ibu Dullah"
Dullah dikenal sebagai pelukis Istana Presiden RI pada masa Bung Karno. Dia mendirikan “Sanggar Pejeng”,  yang menempati  bangunan bekas  Hotel  Puri Pejeng  yang sudah mati. Letaknya di dalam Puri Pejeng, bekas kerajaan tertua di Bali. Banyak orang / pelukis jauh-jauh datang untuk belajar melukis disana. 

Di ujung akhir tahun 1977, Herri Soedjarwanto adalah murid Dullah yang termuda dan baru saja datang di desa Pejeng. Ini kisah nyata ketika baru beberapa hari disana.

"Dari Jalanan Sampai Lukis Presiden"

Cuplikan kisah perjalanan seniman lukis 

Herri Soedjarwanto dan Dullah.

"Dari Jalanan Sampai  Lukis Presiden" oleh:
Adib Muttaqin Asfar. Solopos 21/8/2012
Mau ikut membaca? ... 
klik kanan / tap,  pada gambar... 
klik open link in new window..
Kalau tulisannya kurang besar?...klik sekali lagi..

Lihat artikel / gambar lain yang terkait langsung topik diatas :
-Lukisan Potret Wajah / Lukisan Wajah ( definisi dan gallery )
-Lukisan Potret Wajah dengan Pesan Khusus yang Unik... 
-Melukis Potret Wajah Pengantin.."sebuah Mission Impossible..!!"

Dullah dalam kenangan Herri Soedjarwanto



" Kalau cara nggambarmu nonstop -siang malam sampai pagi - seperti ini, .. nampaknya kamu akan sangat cocok dengan pak Dullah.. beliau kalau melukis juga sampai pagi... "..kata para pelukis tua 

Hari ini tanggal 19-September. Tiba-tiba saya teringat  pak Dullah… 19-9-1919 ..Yaa.. susunan  angka yang sangat istimewa ini adalah hari kelahiran Dullah, pelukis Istana RI semasa Presiden Soekarno (Bung Karno).

FOTO ALBUM: dengan para Tokoh, Seniman, Pelukis, Penulis, Pengamat .. di Museum, Gallery, Pameran dll

Berikut ini ada sedikit  foto-foto lama dan baru, sekedar untuk 
melengkapi dan mendampingi cerita lukisannya saja.

Mr Duncan Graham yang dikenal sebagai "Award Winning Jurnalist" dari Australia
Dia adalah seorang jurnalist kawakan Australia, tinggal di New Zealand dan bolak balik ke Indonesia, karena ia juga menjadi kontributor (harian berbahasa Inggris) The Jakarta Post juga media publik lain di Indonesia dan Australia.

Kedatangannya ternyata khusus untuk memberikan oleh-oleh yang sangat berharga , yaitu buku karya terbarunya (tahun 2018), yang berjudul "The Tyranny of Proximity".



Herri Soedjarwanto dan karyanya, menjadi salah satu subyek tulisan di dalam buku :
"THE TYRANNY of PROXIMITY" karya Duncan Graham
Di halaman 5, halaman "Isi Buku" pada bab 4 - Meet the People One, ada nama Herri Soedjarwanto diantara nama Goenawan Mohamad (Tempo) dan sederetan nama-nama tokoh lainnya...

Buku setebal 403 halaman ini menjadi sangat istimewa, buat saya pribadi.

Jika berkenan membaca sub judul *Herri Soedjarwanto, not a Monochrome Artist* (terjemahannya) . Sila klik https://herri-solo.blogspot.com/…/realisme-yang-sebenarnya-…
jika berkenan membaca selengkapnya ..sila klik
https://herri-solo.blogspot.com/…/herri-soedjarwanto-dalam-…





Werner Krauss (Jerman) , peneliti Raden Saleh dan penulis buku 
Raden Saleh: The Beginning of Modern Indonesian Painting ,
berfoto bersama Herri S di depan lukisan karya Herri S , di Museum Dullah, Solo.


 
Herri Soedjarwantodr. Oei Hong Djien, Werner Krauss (Jerman, peneliti dan penulis buku Raden Saleh ).. di Museum DullahSolo



( Foto koleksi Museum Rudana )
Di dalam Ruang VIP Museum Rudana Bali, di depan lukisan Herri Soedjarwanto "Tatapan Cinta".. Keluarga Besar Rudana berfoto dg Gubernur Bali Bp. Mangku Pastika.


Di depan pintu masuk Museum Rudana
Dari kiri: Warih Wisasatna, Putu Rudana, Bp Ibu Rudana, Ibu Bp Bambang ( Jakarta ), Herri Soedjarwanto, Bp Nyoman Muka.






Nyoman RudanaJonathan Hartley+Herri Soedjarwanto, dalam sebuah pameran lukisan di Four Season Jimbaran, Bali.
Batu Prasasti depan Gedung Museum Rudana, Bali. Bp Ibu RudanaPutu Rudana, Herri Soedjarwanto.


Srihadi Sudarsono sang Maestro + Herri Soedjarwanto dalam sebuah acara di Museum Rudana.

Herri Soedjarwanto dengan Jean Couteau (Perancis), penulis buku seni rupa:
(halaman 281 memuat lukisan karya Herri Soedjarwanto)

Mikke Susanto penulis, kurator ... hunting data di Museum Dullah 

(foto: bali-intercontinental.com)
Herri demo melukis langsung pada Pembukaan Pameran

Rangkaian foto di bawah ini , diambil dari majalah Indonesia Tatler ( 2010 )
 yang meliput event "The Spirit of  Balinese Art " secara cukup lengkap.
Klik pada gambar2 di bawah untuk  membesarkan ,
melihat tokoh yang hadir, dan baca resensi Indonesia Tatler 

   
 Rangkaian foto diatas diambil dari majalah Indonesia Tatler ( 2010 )
Klik pada gambar2 diatas untuk  membesarkan ,
melihat  tokoh yang hadir, dan membaca resensi Indonesia Tatler.
(foto: bali-intercontinental.com)
Herri melukis langsung Tari Kecak sebagai  penutup rangkaian acara
"The Spirit of Balinese Art"di InterContinental Bali Resort Jimbaran..

Lukisan Herri : Gunung Bromo
( merupakan ikon JawaTimur ),
koleksi Gedung Negara Grahadi, Surabaya
Herri memasang karyanya:
Gunung Bromo 2,  di Ruang RI-1
Gedung Negara Grahadi  Surabaya.
(ruang Kepala Negara RI sejak
Presiden  Soekarno sampai SBY )



Herri dan Dullah



HerriSoedjarwanto mendampingi Dullah ketika wawancara dg media, pada saat Sanggar Pejeng berpameran di Jakarta.

Dullah melukis thema Gerilya, Herri Soedjarwanto diminta berpose menjadi modelnya.

Herri+ Istri ( Melina ) + baby pertama, sowan Bapak Dullah di Museum Dullah, Solo.

Pembukaan Pameran Lukisan
" Mengenang Pelukis Dullah"
 "Mengenang Pelukis Dullah"(2003), Galeri 678 Jakarta. *Herri Soedjarwanto mewakili seniman / para pelukis Sanggar Pejeng memberi sambutan dan laporan. Dilanjutkan Guruh Soekarno Putra dengan pidato pembukaan, sekaligus meresmikan Pameran Lukisan (*2lukisan yang nampak adalah Penari Bali karya Herri S dan Tafril Kali Campuan karya Dullah.)


Herri Soedjarwanto nonton TV bersama Affandi dan keluarga besarnya di Museum Affandi Jogjakarta.


Herri Soedjarwanto dan Jeihan Sukmantoro di Studio Jeihan, Bandung. Ngobrol sampai larut, terpaksa bermalam di studio. Esoknya, pagi-pagi sekali, diskusi santainya dilanjutkan lagi.


Herri Soedjarwanto dan Ibu Dewi Motik  bersama rombongan, berada di ruang galeri pribadi koleksi Bp. Sudwikatmono, Jakarta.








 
Herri Soedjarwanto menyiapkan lukisan karyanya di Galeri Pribadi Sudwikatmono Jakarta. 
Lukisan berjudul : "Pak Harto si Anak Desa" tersebut
di pesan oleh Sudwikatmono untuk Museum Purna Bhakti Pertiwi ( Museum Pak Harto) Jakarta.








DjokoPekik, Herri Soedjarwanto
Djoko Pekik+ Bonyong Muniardi
+ Herri Soedjarwanto.
 


 Oei Hong Djien, Nurata+Istri,
+Herri Soedjarwanto.

GM. Sudarta + Herri Soedjarwanto
 Pameran Lukisan Karya GM Sudarta 
di Balai Soedjatmoko 
( Bentara Budaya-nya Solo)













I Gusti Nengah Nurata, Herri
Soedjarwanto, Narsen Afatara
  

Leonardo da Vinci, Dullah & Affandi vs S.Sudjojono ?? …ah..enggaakk…

"affandi sang maestro"  karya herri soedjarwanto
Affandi sang Maestro lukisan Herri Soedjarwanto
Lukisan potret wajah Affandi
karya Herri Soedjarwanto. Sketsa pertama
dibuat langsung dg model Affandi,
di Museum Affandi, Jogja.
"Wahai seniman, engkau adalah milik dirimu sendiri. Dalam kesendirianmu itulah terletak kekuatanmu… kalau kau berteman dengan satu orang , maka engkau hanya memiliki separuh dari dirimu.. Semakin banyak teman yang kau miliki semakin sedikit kau memiliki dirimu…yang berarti semakin sedikit pula kekuatanmu…"(Leonardo Da Vinci )

Saya anak muda yang masih 'ijo' ketika membaca buku catatan harian Giovanni Beltrafio murid Leonardo Da Vinci. Di satu bagian dia menceritakan bahwa dia dan teman-temannya mendengar wejangan sang guru, yang seniman dan manusia besar itu,... (seperti yang tertulis diatas).
Nah… kebayang kan?.. gimana pengaruh sabda "nabi"nya seniman setingkat Da Vinci itu buat seniman pemula, belasan tahun yang masih labil dan butuh pegangan kaya' saya ?..( kalau pakai contoh mutakhir... ibaratnya ketemu tokoh "kharismatik" seperti Nurdin M top, maka ...disuruh bunuh diri ngebom pun nurut saja..)

Jadi, mulai saat itu saya hidup dalam 'kesendirian' karena ingin 'kekuatan penuh', full power.. konsentrasi, focus agar bisa menciptakan karya yg lebih kuat. dan lebih cepat selesai…
Waktu itu saya sudah hidup seatap dengan Dullah (pelukisnya Bung Karno) di Bali, disebuah desa terpencil, desa Pejeng…
Tiap hari saya saksikan dan saya temani pak Dullah melukis dari pagi hingga esok pagi lagi.., tidur hanya 2 jam setelah subuh dan 2 jam di sore hari…( dalam arti harafiah…sungguh.. nggak bohong ).. Situasi dan kondisi semacam itu , dan dicontohkan langsung oleh pak Dullah, tentu saja sangat kondusif menyuburkan pemahaman saya tentang wejangan Da Vinci diatas.

Suatu hari pak Affandi mampir ke Sanggar Pejeng. Saya Tanya, apa rahasianya agar bisa sukses jadi pelukis seperti beliau… "… ada 3 hal agar sukses". Kata beliau ." Satu: kerja keras… dua : kerja keras… dan kemudian ke tiga : kerja keras …!!"
Nah… tentu kata-kata pak Affandi ini semakin menambah keyakinan saya terhadap siklus :' kesendirian ' kekuatan penuh ' kerja keras ' sukses....
Sampai suatu kali saya melihat kisah tetangga saya.


"menempa besi" karya herri soedjarwanto

Tetangga jauh saya ini, orang desa Pejeng asli, ingin anaknya sekolah tinggi, selain kebanggaan juga agar bisa merobah nasib keluarga..Maka dia jual sapi dan sedikit tanahnya, untuk membeayai anaknya kuliah di Denpasar. Berapa tahun kemudian si anak di wisuda, jadi sarjana.. tapi tak lama kemudian ia pulang lagi ke desa dan kembali menggembala sapi seperti dulu..!!.

Ternyata, anak baik ini sadar pengorbanan orang tuanya, ia tekun sekali belajar, kutu buku, sampai kurang bergaul, tak punya teman, sendirian dan tak mampu beradaptasi dengan kehidupan kota…

Saya agak goyah, apa Da Vinci salah? saya renungkan ulang kata-katanya…

Masa-masa itu, saya bertemu S.Sudjojono ( bapak senilukis modern Indonesia ), yang sedang melukis di Bali. Pada beliau saya tanya hal yang sama, kiat sukses pelukis.. dan Sudjojono menjawab:
" Ada dua…: 1- Kwalitas karya. 2- Tersebar luas. Kedua-duanya harus bersamaan… Kwalitas bagus tapi hanya tergantung di dinding kamar thok , ya tak bisa sukses.. sebaliknya tersebar luas, tapi kwalitasnya buruk, ya malah jadi bumerang.. ya jatuh...

Tiinggg…ada sedikit pencerahan,..jadi yang dimaksud Da Vinci dengan kata-katanya diatas adalah untuk pencapaian kwalitas... Sedangkan tersebar luas, menunjuk kearah pergaulan ,pertemanan , jaringan… dan seterusnya..ya harus di upayakan.. apalagi di jaman internet seperti sekarang ini.. Tentu takkan mau kita, punya karya berkwalitas tapi tak ada yang tahu karena tak tersebar luas...

Jadi… Da Vinci nggak salah… tapi… akunya saja yang bodo, menelan mentah kata-kata.... Jadi ?… renung kan saja sendiri, …saya tahu dan yakin Anda lebih pintar daripada saya...