GALERI LUKISAN : contoh beragam Karya Herri Soedjarwanto (lihat 17 lukisan+)

GALLERY LUKISAN REALISME : 
karya Herri Soedjarwanto
Deretan lukisan + cerita seputar lukisan, dibalik lahirnya sebuah lukisan , latar belakangnya, 
proses kreatifnya ..Sharing soal jawab lukisan, Cara Pemesanan lukisan  dan banyak lagi ..
[klik gambar untuk membesarkan.. 
klik link / tulisan untuk baca kisah riwayat atau prosesnya]

Galeri Lukisan Ibu dan Anak


Lukisan Potret Wajah
" Lukisan Wajah .... "( Mei 2014) karya Herri Soedjarwanto, 
Koleksi / dipajang di  Istana Kerajaan Negeri Kedah Malaysia

Bung Karno dan Rapat Raksasa Lapangan Ikada




Dari Jalanan Sampai Lukis Presiden (klik)
Untuk baca: Klik kanan gambar ... lalu klik open in new tab

Dipesan oleh Sudwikatmono, dihibahkan menjadi koleksi:
Kisahnya bisa dibaca di kliping koran  
 klik di sini Dari Jalanan sampai Lukis Presiden
Lukisan Herri: cover buku ilmiah terbitan Routledge, Inggris 

Lukisan Herri cover buku terbitan Routledge Inggris


.. Perjalanan Lukisan.. Surat dari A.S
... Dialog dengan S. Sudjojono 
                           
"Bayi Rakyat" Karya Herri Soedjarwanto
Untuk berita terbaru tentang "Bayi Rakyat" 


Melukis Wajah Potret Pengantin..sebuah " Mission Impossible"

"Tatapan Cinta" karya : Herri Soedjarwanto
Koleksi : Museum Rudana, Bali.
                                                                               
Lukisan Dewa Kwan Kong versi Herri Soedjarwanto
Lukisan Dewa Kwan Kong, versi Herri Soedjarwanto




"Happy Family", (2013),  karya Herri Soedjarwanto.
Dalam melukis pesanan potret wajah Herri punya komitmen :
Lukisan harus lebih bagus, lebih indah dan 
lebih hidup dari pada foto acuannya.

 

Cara Membuat Lukisan Terlihat Lebih Hidup

MERIAM BAMBU, MAINAN  TRADISIONAL NUSANTARA

LUKISAN REALISME, CATATAN HARIAN di  KANVAS
" Bocah Pinggiran Stasiun " karya Herri Soedjarwanto
Sekumpulan anak jalanan  di sebuah stasiun: penjual koran,
penjaja es lilin,  seorang bocah penyemir sepatu yang ..



"Kembang Wijaya Kusuma"

Lukisan Potret Wajah, Figur, Kehidupan, Realisme Sosial,
Pemandangan Alam, Bunga, Alam benda dsb

Silaturahim Budaya : Menjelang 100 Tahun Pelukis Dullah

Silaturahim Budaya ..Solo, 19 September 2016 .. bersama
 Garin Nugroho, Mikke Susanto, Aminudin TH Siregar (Ucok), Bhuana Eka Putra



Ir Sawarno dan Keluarga memotong tumpeng 






Catatan 19 September : Mengenang pelukis Dullah, .. Bung Karno dan Rapat Raksasa Ikada

Oleh: Herri Soedjarwanto , Pelukis Realis Indonesia .. asisten Dullah di Sanggar Pejeng Bali.


“Rapat Raksasa  Ikada 1945 ” karya Dullah 1979. (tak pernah selesai)
Sedikitnya  ada dua peristiwa penting pada tanggal 19 September … kelahiran pelukis Dullah 19 September 1919… dan Rapat raksasa Ikada, 19 September 1945…  Secara kebetulan,  keduanya saling terkait.

‘Rapat Raksasa Ikada’ adalah suatu peristiwa penting pada masa Revolusi.  Dengan tokoh utamanya Bung Karno. Dullah adalah pelukis kesayangan Bung Karno.. Dullah sering menceritakan kisah  tentang  Rapat Raksasa Ikada ini kepada penulis yang waktu itu menjadi asistennya  dan  tinggal seatap dengannya di Sanggar Pejeng Bali.  

 Rapat Ikada  itu termasuk Peristiwa favorit Dullah karena (salah satu alasannya)  bertepatan dengan  tanggal kelahiran Dullah, yaitu 19 September.  Tak heran , ketika mempersiapkan Pameran di Jakarta 1979, Dullah bermaksud melukis "Rapat Raksasa Ikada" sebagai lukisan utamanya, dalam ukuran 200 X 350cm. 

Namun karena satu kejadian, (klik baca detikcom: era Suharto kok bikin Lukisan Bung Karno?)  lukisan tersebut  tak selesai pada saat pameran. Lukisan tersebut tetap dipamerkan meskipun baru tahap sketsa dengan sedikit warna dasar tipis dan sedikit wajah Bung Karno di pusat lukisan.
 Sampai saat Dullah meninggalpun (1996 .... 17 tahun kemudian), bahkan sampai sekarang,  lukisan tersebut masih tetap dalam posisi dan status seperti itu, tak pernah selesai. Meskipun  demikian lukisan itu tetap tergantung  abadi dengan megah  di dinding Museum Dullah, Solo.

"Bung Karno, dalam Rapat Raksasa Ikada 1945" karya Herri Soedjarwanto 2014

“ Wah .. Sayangnya  lukisan ini tidak pernah selesai”, kata seorang  pengunjung  Museum Dullah yang juga pecinta seni . “Apakah Mas Herri  bisa menyelesaikan  lukisan ini ? … maksud saya melukis ulang lukisan ini di kanvas lain,  sehingga selesai, menjadi seperti apa yang  Pak Dullah maksudkan? … dan apakah ada kendala  secara  etika  ?“ tanya beliau pada saya.

“Sebagai mantan asisten Dullah, tentu saya bisa , dan  saya pikir tak ada kendala secara etika . Karena …

Pertama : Sangat jelas bahwa saya tidak sedang mengcopy lukisan Dullah.. karena lukisan Dullah ini jelas terlihat  sama sekali belum jadi… baru mulai sket awal..sekitar 3 - 5% saja.

Kedua: “Lukisan ini dibuat Dullah berdasarkan foto dokumentasi  dari kementerian penerangan. Foto dokumentasi  tentang Rapat Raksasa Ikada ini sekarang sudah banyak dimuat dimana-mana , ada di buku sejarah, internet dan sebagainya. Foto ini sudah menjadi milik publik / domain public.. siapapun bisa menggunakannya untuk tujuan positif … apalagi untuk menambah perbendaharaan dokumentasi  sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan  RI . Jadi seandainya  tanpa lukisan Dullah sekalipun,  lukisan ini tetap bisa dibuat berdasarkan foto-foto dokumenter tersebut“.

Beberapa bulan kemudian, di tahun 2014 tuntas sudah lukisan “Bung Karno, Rapat Raksasa Ikada 1945” karya Herri Soedjarwanto. ###


Tentang Pelukis Dullah
Dullah adalah seorang seniman lukis Indonesia. Lahir di Solo, 1919 dan meninggal tahun 1996. Dia dijuluki "Pelukis Revolusi", karena ia banyak melukis peristiwa yang berkaitan dengan masa revolusi, ketika mempertahankan kemerdekaan Indonesia.  Dullah juga dijuluki pelukis Istana, karena kedekatannya dengan Presiden Soekarno. Selama 10 tahun (1950-1960) ia dipercaya untuk memelihara dan mengawasi benda-benda seni yang tersimpan di Istana Negara, sekaligus menjadi pelukis pribadi Bung Kamo. Ia juga dipercaya menyusun empat  jilid buku koleksi lukisan Bung Karno pada tahun 1956; dan 1959. Keempat jilid buku tersebut diterbitkan oleh Pusat Kesenian Rakyat di Beijing, Republik Rakyat China. Selain itu ia menjadi pengasuh Sanggar Pejeng yang bertempat di Puri bekas Istana kerajaan tertua di Bali. 

[Sejarah].. Bung Karno dan Rapat Raksasa Lapangan Ikada


Bung Karno Rapat Raksasa Ikada lukisan Herri Soedjarwanto
"Bung Karno dalam Rapat Raksasa Lapangan  Ikada 19 September 1945" karya Herri Soedjarwanto


….Setelah mendengar pidato singkat Bung Karno… maka  terjadilah keajaiban tersebut…!!..  Kumpulan massa 300.000 orang  yang dianggap fihak Jepang akan sukar dikendalikan, ternyata mau patuh pada Presidennya dan pulang kerumah masing-masing dengan teratur… 

Sebagaimana tertulis dalam sejarah, tidak banyak yang diucapkan dalam pidato tersingkat yang pernah disampaikan Soekarno di Lapangan Ikada. Namun apa yang tersirat dalam pidato singkat tersebut sungguh sebuah monumen nasional yang tidak akan dilupakan orang. Semua fihak baik yang mengagung-agungkan dirinya, mencerca dirinya dan mengancamnya selama zaman Jepang dan disekitar Proklamasi, termasuk yang berpikiran naif tentang manusia bernama Soekarno ini, pada akhirnya harus mengakui bahwa Republik ini dalam mengusahakan perjuangan bangsa selanjutnya setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 membutuhkan seorang PEMIMPIN NASIONAL yang tidak pernah ada duanya dalam sejarah Indonesia…


"Dullah dan Lukisan Bung Karno yang Tak Selesai" .. dikisahkan oleh Herri kepada detikcom

Terkait dengan Pameran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan, yang berlangsung di Galeri Nasional sepanjang bulan Agustus 2016 .. detikcom menurunkan tulisan tentang Dullah, salah satu pelukis Istana yang karyanya dipamerkan .. Nara sumber:  Herri Soedjarwanto, Mikke Susanto (kurator dan pengajar FSR ISI Yogyakarta)  dan Tedjabayu (anak Sudjojono) ... Sila baca tuntas ... 
http://x.detik.com/detail/intermeso/20160727/Dullah-dan-Lukisan-Bung-Karno-yang-Tak-Selesai/index.php


Silahkan baca kisah-kisah lainnya tentang HERRI dan DULLAH di :
https://herri-solo.blogspot.co.id/search/label/HERRI%20dan%20DULLAH

Sketsa Drawing Lukis Wajah Hitam Putih ... Pensil di atas Kertas

contoh JENIS LUKISAN HITAM PUTIH karya Herri Soedjarwanto

CONTOH  1 - 5

Beberapa kali saya mendapat pesanan sketsa/drawing lukis wajah dari daerah-daerah / wilayah yg sebenarnya sangat banyak pelukisnya. Setelah beberapa kali pesan lukisan, dan mulai akrab , saya secara iseng-iseng bertanya:

"Kenapa jauh2 pesan lukisan kesini padahal harganya jauh lebih mahal, berlipat ganda ?.. bukankah di sana banyak pelukis bagus dan tarifnya lebih murah ?"

REALISME YANG SEBENARNYA ( dingin, kejam, getir ), dari Seniman yang Lemah Lembut .. oleh Duncan Graham* (jurnalis Australia, New Zealand)*

Ini terjemahan dari kliping Koran The Jakarta Post (9/Feb/2016) , yg pernah diposting dengan judul : Herri Soedjarwanto & Lukisannya ;  dalam liputan The Jakarta Post 


Photos by JP/Erlin Graham, screenshoot INDONESIA NOW - The Jakarta Post
diterjemahkan dari artikel aslinya :
STARK REALISM FROM A GENTLE ARTIST, 
NO MONOCHROME ARTIST
By : Duncan Graham *(jurnalis senior Australia, tinggal di New Zealand)
(First published in  The Jakarta Post 9 February 2016)
Posted by INDONESIA NOW with Duncan Graham 11 February at 3:46 PM
http://indonesianow.blogspot.co.id/2016/02/stark-realism-from-gentle-artist.html
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 
Master of Realisme: Pelukis Herri Soedjarwanto di studionya di Surakarta, Jawa Tengah. - 
 mengatakan karya-karyanya yang terbuka bagi publik untuk menafsirkannya . - Lihat artikel asli di: http://indonesianow.blogspot.co.id/2016/02/stark-realism-from-gentle-artist.html

Jika selera seni Anda memerlukan bumbu dengan teka-teki, keingintahuan, kontradiksi, tantangan dan membingungkan-.. maka..  janganlah  mencari realisme, seperti yang dibuat oleh pelukis asal Solo Herri Soedjarwanto.
Lukisan potret nya yang molek terlihat lebih seperti sentuhan penyempurnaan photography , yang merupakan salah satu kritikan yang dilemparkan di media oleh mereka yang lebih memilih seni abstrak.

Soedjarwanto adalah seorang murid terkemuka Dullah, yang di Indonesia dijuluki Raja Realisme, favorit istana semasa pemerintahan Soekarno. Ia menyelesaikan (tepatnya melukis ulang ) beberapa karya Dullah (khususnya karya kolosal, besar, yg tak pernah selesai) , setelah pelukis tua itu meninggal karena serangan jantung pada tahun 1996.

Diantaranya termasuk adegan pergerakan kerumunan masa yang banyak , yang  menampilkan presiden pertama (Bung Karno-pen) bertemu dengan orang-orang di bawah langit yang penuh bergelombang dengan bendera merah dan putih --  fantasi dari seorang nasionalis.


Namun jika Anda berpikir lukisan tersebut terlalu unsubtle, romantis dan penuh kejayaan kebangsaan dan lebih suka penjelasan baku apa adanya, maka Anda perlu (dan harus) mendengar penjelasan dari seorang seniman seperti Herri Soedjarwanto.

"Orang-orang dapat memiliki lebih dari satu kepribadian," katanya di studionya di Solo, di mana ia sudah tinggal selama 20 tahun terakhir, dikelilingi oleh kanvas dari lantai sampai ke langit-langit. 



"Beberapa lukisan yang saya buat untuk klien,  bercorak  realistik. Seperti yang ini , pasangan Bali dalam pakaian tradisional setelah pernikahan mereka -


tapi karya-karya  saya yang lain datang (tercipta) dari  hati "
.




 Dan betapa hati yg besar itu terpenuhi oleh masalah besar – atau setidaknya begitulah tampaknya. 

Dalam satu kanvas besar, gambaran sosok Soekarno menangisi sebuah  pemandangan yang tersiksa oleh kemiskinan, penderitaan dan kekacauan. Semua mimpi Proklamator untuk bangsa yang makmur sejahtera dan bahagia hancur oleh keserakahan, intoleransi dan korupsi.


Kemudian ada suasana kehidupan pedesaan dari presiden kedua Soeharto, baju terbuka, lengan digulung, memegang seikat padi. Dia memimpin di kepala meja sarat dengan panen  produk pertanian yang dihasilkan oleh petani-petani yang tegap. Bahkan binatang buaspun terlihat senang ..

Figur ayah periang yang memegang jabatan tertinggi selama 32 tahun duduk dikelilingi oleh anak-anak montok dan warga yang puas bahagia dalam lanskap pastoral kemakmuran, subur, meskipun salah satu figur tidak-terlihat jelas di tepi kiri telah berbalik dan berjalan pergi seperti tamu yang tidak diinginkan . Demokrasi? Tidak ada seorang pun yang mengatakan.

Karya tersebut adalah:  Pak Harto si Anak Desa [Soeharto the Villager]; yang terpajang di Museum Purna Bhakti Pertiwi Jakarta Timur,.. Karya yang merayakan kehidupan dan pemerintahan presiden kedua.

Soedjarwanto mengatakan karya seni itu dibeli (tahun 1998) seharga Rp 40 juta [US $ 3.000] oleh Sudwikatmono, sepupu terakhir  Soeharto , dan disumbangkan ke museum, jelas karena pertimbangan penghormatan, penghargaan  kepada kerabatnya.

Namun lukisan itu juga telah digunakan sebagai  cover buku ”Illiberal Democracy in Indonesia “ oleh akademisi Australia Prof Dr David Bourchier dan diterbitkan tahun ini (2015, oleh penerbit legendaris Routledge di Inggris-pen)


Buku ini tentu bukan pidato pujian untuk pemimpin terakhir yang  sekarang secara luas dianggap sebagai seorang penguasa lalim yang korup yang memerintahkan menghancurkan perbedaan pendapat, kritik dan upaya artistik. Menukar wajah Soeharto dengan  Yesus Kristus , dan lukisan itu  bisa menyemarakkan dinding sebuah gereja evangelis atau  gereja karismatik yang  lebih peduli dengan puji-pujian dari pada maksud tujuan.

"Terserah pada orang-orang  lain untuk memutuskan apa arti / makna lukisan itu," kata Soedjarwanto. "Saya serahkan pada  Anda untuk menilainya. Anda pikir itu sebuah (lukisan) parodi? It’s OK."

Tapi itu menjelaskan dengan gamblang bahwa sang seniman,  yang mengenakan baret revolusioner itu, bukanlah  pencinta dari sang  jenderal yang telah menggulingkan pahlawan-nya.

Salah satu lukisan realistik terbesar di studio menunjukkan Soekarno muda dengan Fatmawati, istri kedua dari sembilan istri-istrinya.




Karya-karya yang lain  adalah potret ramah orang-orang cantik dan profesional , digarap dan diselesaikan dengan setiap rambut dan lesung pipit tepat pada tempatnya , .. atau pemandangan mengerikan dari Armageddon.


Meskipun Soedjarwanto dan Meilina istrinya yang Cina adalah Muslim, beberapa karyanya memiliki rasa suasana hari  kiamat yang dikisahkan Alkitab. 

Kapitalisme perkotaan berdiri di Cloudscape disangga dengan  tiang kurus dipegang  tegak keatas  oleh massa yang  kelaparan.  Ketika itu semua berjalan terhuyung - datanglah Apocalypse.

Old Master (dunia) yang agak mendekati (karakter Herri)  mungkin adalah  Hieronymus Bosch, seorang pelukis Belanda  abad ke-15.. Pelukis adegan pemandangan massa yang  penuh penderitaan. Namun Soedjarwanto menegaskan bahwa  pahlawan / idola nya yang sebenarnya adalah seniman abstrak Pablo Picasso [yang ulang tahunnya kebetulan sama dengan Herri - 25 Oktober],  meskipun artis  Indonesia ini belum memeluk corak Kubisme dari periode akhir  artis Spanyol itu.

Pelatihan formal Soedjarwanto di bidang seni adalah dengan Dullah,  tapi bakatnya sudah terpampang saat masih remaja ketika ia membuat komik bergambar yang hidup. Meskipun berdasarkan pahlawan nyata dan mitos Jawa (China) mereka mengikuti gaya Amerika,  dramatis, close-up, kalimat kaku dan action yang dinamis.
Garis yang tegas dan proporsional, tekniknya begitu halus dan profesional , semuanya  terlihat seolah-olah kemampuan teknis itu  datang dari veteran di sebuah studio seni komersial. .. Sangat Jelas pria ini  memiliki bakat yang luar biasa dengan kuas dan pena.


Kadang-kadang ia mengajar di kelas, tapi dia mungkin seorang guru yang sulit. Setiap murid yang mengukur kemampuan alami mereka, akan berhadapan / berlawanan dengan kekurangan-kekurangan  yang akan dia temukan

"Seperti Picasso Saya mencoba untuk menjadi multi-purpose," katanya. "Jika perasaan saya sedang baik saya melukis potret realistis, tapi ketika saya sudah merasa tertekan dengan berita dari media,  saya harus membersihkan perasaan saya,  melampiaskannya  melalui seni."..

"Saya mendapatkan ide-ide saya melalui berita dan omongan jalanan. Saya tahu apa yang menjadi kekuatiran dan kegelisahan orang. Mereka tidak memiliki surat kabar seperti politisi, tetapi mereka masih memiliki opini  yang kuat yang mereka tidak takut untuk menyebarkannya. "

Tidak ada gambar yang melibatkan Presiden yang sekarang? 
"Belum ada.. Saya sedang menunggu kepemimpinannya dan tindakannya yang bisa menjangkau dan menyentuh saya (untuk melukisnya)."

Salah satu bagian yang sangat biadab , seorang tokoh Keadilan seperti pengacara / hakim dengan penutup mata robek menusuk pedang pada timbangan yang hancur – sebuah respon untuk tragedi skandal peradilan. (Skandal Aqil Mochtar, Hakim Mahkamah Konstitusi)

Soedjarwanto mencoba untuk menjelaskan kontradiksi ini :
"Bagi saya, lukisan adalah alat komunikasi. Di dalam kehidupan sehari-hari, apakah saya  harus membatasi diri untuk berbicara tentang satu hal saja - gadis cantik, pegunungan indah atau berkonsentrasi pada kemiskinan?

"Tidak! Setiap hari saya berbicara tentang segala sesuatu dari yang sepele hingga yang serius, tentang perasaan senang bahagia .. melewati  keburukan, penderitaan dan ketidakadilan. Itulah  yang menjadi refleksi  Seni saya - segala sesuatu, semua hal. Itu  seperti sebuah buku harian yang mencatat merekam emosi saya..

"Saya tahu ini membingungkan para pembeli yang suka mengoleksi lukisan potret atau lanskap dan membutuhkan pasokan yang konsisten. Mereka ingin saya untuk mengkhususkan diri .  

Tidak apa-apa ; Aku tidak akan terintimidasi untuk kemudian berderap lari mengikuti ide-ide mereka. Aku hanya ingin jujur ​​dan mengikuti hati nurani ku, ke mana pun ia pergi. " 

Tulisan terkait : 
Para Maestro Melukis Segala Obyek 
http://herri-solo.blogspot.co.id/2012/03/pelukis-yang-melukis-semua-obyek.html

*About Duncan Graham*
CV Education: M Phil (UWA), Grad Dip Cultural Communication (Riverina), BA (Curtin) Languages: English (fluent). Indonesian (intermediate). French (intermediate). Past employers: Fairfax Press (The Age & Sydney Morning Herald – both broadsheet dailies) as a reporter and feature writers for ten years; ABC TV and Channel 9 as a presenter and producer for six years; AAP stringer for four years, Radio 6NR (manager for four years); The West Australian (Perth daily newspaper) where I did my cadetship. Awards: (All in Australia): Walkley Award for Journalism Human Rights and Equal Opportunity Media Award (Twice) Equal Opportunity Commission Media Prize (Twice) Daily News Centenary Prize; Perth Press Club Award; MBE Health Award WA Week Book Award (now the Premier’s Prize) for non-fiction. Media grants: Two from the Western Australian government, one from the Australian government. All to report on issues in Indonesia. Published books: The People Next Door (UWA Press), Being Whitefella (FAC Press), Dying Inside (A & U). SEE ALSO: www.newzealandnow.blogspot.com

Lukisan Wajah Hitam Putih.. Pensil di atas Kertas

 
Herri Soedjarwanto sedang melukis Wajah, Hitam Putih
Menggunakan Pensil diatas kertas Canson A3
Dipesan dari Jepang..
Saya tak memajang lukis wajah (drawing) hitam putih kecuali cuma satu (diantara puluhan karya saya di internet). Itupun sifatnya hanya melengkapi, maksudnya sekedar contoh bahwa: dibutuhkan pondasi sketsa / drawing yg seperti ini untuk bisa 'membangun' sebuah lukisan oil/acrylic yg seperti itu.

Dalam perjalanannya, ternyata selalu ada saja teman2 yang tertarik ingin memiliki / ingin dibuatkan drawing pencil on paper sperti itu. Awalnya saya tolak, saya persilahkan cari di tempat lain, karena sudah repot melukis yg besar-besar.

Tapi lama-kelamaan saya merasa bersalah. Nggak enak juga, mereka sudah repot2 dan jauh2 kirim foto, tanya ini itu, ujungnya cuma ditolak. (Foto yang terlanjur ditolak menumpuk sudah mencapai lebih dari 20 foto wajah)..

Periode berikutnya saya mulai 'membuka hati' menerima garapan drawing dengan selektif ... salah satunya yg dipesan jauh dari Jepang..

Ketika saya luangkan waktu,... eh.. ternyata seru juga sebagai variasi / selingan, untuk melawan stagnasi dan kejenuhan bikin lukisan besar .. semacam rekreasi .. meskipun cuma sejenak ..

Lihat lukisan terkait dan contoh gambar lebih banyak
lukiswajah2.blogspot.com 
https://herri-solo.blogspot.co.id/2016/07/sketsa-drawing-lukis-wajah-hitam-putih.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...