" Kalau cara nggambarmu nonstop -siang malam sampai pagi - seperti ini, .. nampaknya kamu akan sangat cocok dengan pak Dullah.. beliau kalau melukis juga sampai pagi... "..kata para pelukis tua
Phone:081.667.2417~[]WA: 0813.2899.6666[] Email: herri.solo@gmail.com []Facebook: herri soedjarwanto
halaman
- HOME
- DAFTAR ISI / MENU ~ Kategori Lukisan / Tulisan
- PESAN LUKIS WAJAH ?..di sini..
- PROFIL, Biodata
- HERRI dan DULLAH
- ALBUM FOTO
- Apa itu Lukis Potret Wajah
- CONTACT
- MEMAHAMI REALISME
- PROBLEMA REALIS
- LUKISAN REALISME SOSIAL
- CERITA KEHIDUPAN PELUKIS unik+nyata
- Top Diskusi
- Dari Jalanan Sampai Lukis Presiden
Tampilkan postingan dengan label pelukis indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelukis indonesia. Tampilkan semua postingan
Dullah dalam kenangan Herri Soedjarwanto
Lukisan Realisme Sosial, Narrative, Kolosal, karya Herri Soedjarwanto.
Ada banyak lukisan saya buat untuk mencatat banyak hal yang terjadi yang terekam oleh pikiran dan perasaan saya. Hal itu bisa saja suatu hal yang sangat remeh temeh, atau sebaliknya bahkan sesuatu yang sangat luar biasa.... Buat saya, apapun halnya , itu bukan masalah. Yang penting adalah, apapun itu harus dikerjakan dengan serius, sungguh-sungguh dan antusias tinggi.. Karena seni ( lukis realis ) yang tinggi hanya bisa dicapai dengan kondisi mental seperti itu.
Ironi Orde Baru dalam 3 Lukisan
Kali ini saya tayangkan tiga lukisan karya saya yang mencatat hal dan kejadian yang rada serius di negeri ini .. Banyak hal bisa saya jelaskan mengenai tiga lukisan ini, tapi saya belum sempat,.. jadi, sementara... biar saja mereka bertiga bicara sendiri.. kan... katanya.. satu gambar bicara lebih dari sejuta kata...? : ) ....
"Pak Harto Si Anak Desa" (1997 ), oil on canvas, 160 x 100cm, lukisan karya: Herri Soedjarwanto
koleksi : Bpk. Sudwikatmono, dihibahkan ke: Museum Purna Bhakti Pertiwi (museum Pak Harto), TMII, Jakarta.
"Krisis di Titik Kritis"
(Februari-1998 ) Arang diatas kanvas.
160 x 100 cm
Karya: Herri Soedjarwanto.
note: Setelah lukisan ini selesai dibuat, dipamerkan, dan dimuat resensinya di media masa ... sebulan kemudian pecah peristiwa kerusuhan Mei '98.
Berikut ini kliping koran yang berisi resensi tentang lukisan ini,
(klik koran untuk membesarkan)
"Tinggal Landas, Tinggal Amblas"( 1998-99 ) Mix media on canvas. 126 x 180 cm
lukisan karya: Herri Soedjarwanto, dikoleksi oleh keluarga Setiawan Djody.
Lukisan ini masuk Finalis Kompetsi Seni Lukis Nasional,YSRI-PHILIP MORRIS 1999.( 100 lukisan terbaik dari sekitar 3000an karya yang dikirim ke panitia ). Dimuat dalam katalog dan ikut dalam pameran bertajuk : "A STROKE of GENIUS" disponsori oleh Philip Morris.
Lihat Lukisan Realisme Sosial karya Herri yang lain :
( klik pada judul ) :
" Kami Anak Indonesia juga ...lhoo.." ( bocah stasiun, anak jalanan, bayi rakyat )
Stop Kehancuran...Bersatu.. Selamatkan Generasi ... (..dan Bung Karno pun menangis..)
Lukisan belum jadi, saya merasa jenuh… adakah solusinya?
(pertanyaan dari
Forum Tanya jawab / diskusi…)
JAWAB: Sebuah pertanyaan sederhana tapi sangat penting & mendasar.. kenapa begitu??..
![]() |
| Herri Soedjarwanto terus menerus melukis menghadapi 2-3 kanvas sekaligus, dengan media maupun obyek sangat berbeda bahkan kontras, dalam rangka mengatasi kejenuhan |
Rasa jenuh adalah tanda awal sebuah kegagalan .. atau justru sebaliknya .. tanda awal kesuksesan dari sebuah proses kreatif dalam sebuah totalitas penciptaan karya ..
Perasaan jenuh, sesuatu yang wajar, semua orang mengalaminya, termasuk saat sedang melukis. Yang penting, semua itu tergantung pada bagaimana cara kita menyikapinya. Apakah kita berhenti melukis? yang berarti menyerah pada kejenuhan.. Atau justru memanfaatkan energy jenuh itu untuk menjadi lebih kreatif dan produktif.
Perasaan jenuh, sesuatu yang wajar, semua orang mengalaminya, termasuk saat sedang melukis. Yang penting, semua itu tergantung pada bagaimana cara kita menyikapinya. Apakah kita berhenti melukis? yang berarti menyerah pada kejenuhan.. Atau justru memanfaatkan energy jenuh itu untuk menjadi lebih kreatif dan produktif.
Jadi? Apa yang harus
dilakukan ketika datang rasa jenuh?
Lukisan Realisme dengan obyek Penari & Tarian Bali
![]() |
| Herri Soedjarwanto melukis penari Bali yang sedang menari. |
Lukisan Pesanan vs Karya Sendiri, Mana Lebih Tinggi Nilainya?
"Night Watch" karya Rembrandt van Rijn

Lukisan Anda kebanyakan karya pesanan atau karya sendiri ?
Saya sering ditanya seperti itu. Pertanyaan pilihan sederhana yang bisa dijawab: .. a) atau b)… Masalahnya sering kali si penanya ini sudah punya kesimpulan salah dalam benaknya, bahwa yang karya pesanan itu rendah nilainya. Sedang karya pribadi, karya yang dibuat atas kemauan sendiri itu lebih tinggi derajatnya. Atau sebaliknya, ada juga yang justru bersikap, karya yang pesanan dianggap tinggi, sedangkan karya pribadi dianggap rendah.
Meriam Bambu mainan tradisional anak Nusantara
Meriam Bambu di Jawa dan Bali
Meski sudah jarang terlihat di tengah kota , meriam bambu ( long bumbung, Jawa ) masih sering terlihat di pinggiran kota maupun di desa-desa di Jawa, Bali maupun (mungkin) di pulau-pulau lain (semasa kecil, saya di Kalimantan Selatan pun sering bermain meriam bambu bersama teman-teman).
Salah Kaprah tentang Realisme
![]() |
"The Potato Eaters" karya Vincent Van Gogh. |
Ketika Vincent Van Gogh melukis "Para pemakan kentang" dia bermaksud menceritakan tentang penderitaan para pekerja tambang yang serba sulit, betapa mereka dengan tangan yang masih kotor sehabis bekerja langsung meraup makanan... karena saking laparnya.....Tapi para pengamat cenderung lebih membicarakan dan berdebat soal goresan, komposisi, garis, bidang, warna, dan hal-hal lain yang sifatnya teknis soal lukisan Van Gogh.
Pablo Picasso sepanjang hidupnya, sejak muda sampai tua, melukis dalam berbagai corak. Mulai dari realisme, impressionisme, ekspresionisme, sampai ke kubisme yang merupakan corak temuannya.
Pablo Picasso sepanjang hidupnya, sejak muda sampai tua, melukis dalam berbagai corak. Mulai dari realisme, impressionisme, ekspresionisme, sampai ke kubisme yang merupakan corak temuannya.
Lukisan Realisme, sebuah "Catatan Harian" di atas kanvas.
![]() |
"Bocah pinggiran Stasiun"
karya: Herri Soedjarwanto
koleksi : seorang boss BNI pusat Jakarta
|
Sekumpulan anak jalanan di sebuah stasiun, ada penjual koran, penjaja es lilin, dan seorang bocah penyemir sepatu yang sedang menghisap rokoknya. Koran di tangan si anak bertanggal 23 Juli , dan terdapat logo Hari Anak Nasional…. Jam di stasiun menunjuk pukul 08:20 pagi, saat dimana seharusnya anak-anak sedang bersekolah. Di latar depan ada sobekan koran bertuliskan "..Saya Anak Indonesia…".. terbuang dalam kotak sampah…
Selamat datang di weblog "Pelukis Realis Indonesia ~karya dan cerita seputar lukisan realis herri soedjarwanto" (ini postingan perdana)
Dalam blog ini, rencananya saya akan coba memuat gambar maupun lukisan karya saya yang bersifat "catatan harian" atau yang bercerita ( narative ), beserta kisah cerita diseputar lahirnya karya lukisan tersebut. Contohnya ..ya.. seperti "Bocah pinggiran Stasiun" itulah..Selamat datang di weblog "Pelukis Realis Indonesia ~karya dan cerita seputar lukisan realis herri soedjarwanto" (ini postingan perdana)
Namun begitu, tak menutup kemungkinan, lukisan-lukisan lain seperti potrait , pemandangan dan sebagainya, akan dimuat juga sebagai pelengkap.. Sebisa-bisa saya usahakan agar bisa urut.. Selain itu blog ini juga akan memuat tulisan ringan soal seni lukis,.. terutama.. realisme. Diharapkan Anda ikut nenyumbang komentar, ikut bertanya maupun menjawab di FORUM. Itu akan sangat membantu arah posting apa yang paling dibutuhkan.
Kenapa kok "Catatan Harian" ?... yah..memang ada akar sejarahnya....
Sejak bocah di TK saya sudah sangat suka menggambar, 'mencatat' apa saja yang saya lihat, saya alami, saya rasakan, saya pikirkan atau angankan.. Kertas, buku , kurang dapat menampung banyaknya 'catatan' ( gambar ) yang berupa corat-coret itu. Maka dinding....lantai.... baik di sekolah maupun di rumah, yang luasnya belasan meterpun menjadi sasaran ...penuh dengan gambar-gambar 'indah' menurut saya,..... tapi menurut guru dan orang tua.. itu mengotori dinding dan lantai.. ..yang membuat saya dihukum untuk membersihkannya...
Ternyata sampai puluhan tahun kemudian kebiasaan " membuat catatan harian" dengan gambar, dan juga lukisan itu masih tetap terus berlanjut.. bahkan sampai sekarang..
OK selamat datang .. semoga bermanfaat...jangan lupa tulis coment Anda, atau sekedar isi buku tamu... terimakasih .... Salam budaya ....!
Langganan:
Postingan (Atom)









