![]() |
| Komik "Si Tongkat Sakti" 7 jilid, karya pertama Herri (18 th). Diterbitkan CV Gema (Th1976-77). Naskah oleh Kho Ping Hoo judul asli "Liong San Tung Hiap" |
Kho Ping Hoo adalah
satu nama yang cukup berpengaruh dalam mewarnai hidupku. Pada masa kanak-kanak hingga
remaja aku sangat suka membaca novel cerita
silat karya Kho Ping Hoo. Bahkan
kecanduan. Kenapa bisa begitu? Singkatnya: Selain alur cerita yang menarik, karakter tokoh yang kuat, pemilahan baik dan buruk
yang jelas, penggambaran suasana alam dan sejarah yang sangat hidup, disitu
juga banyak berisi pelajaran berharga, filsafat hidup , tuntunan kebaikan,
nilai-nilai luhur mulia, jiwa ksatria dan sebagainya.. sehingga para orang
tuapun tak melarang, bahkan menganjurkan anak-anak untuk membacanya…
Lulus SMA, umur 18 Tahun (1976-1977), aku sempat
mengerjakan 2 judul komik dengan naskah Kho Ping Hoo.
Pertama: “Si
Tongkat Sakti”, 7 jilid , (judul
asli: "Liong San Tung Hiap"
) aku pakai nama samara Rys Herwanto.
Kedua : “ Patung Dewi
Kwan Im” sampai jilid 5 ( dari 15
jilid yang direncana). Aku pakai nama Heries.
Prosesnya cukup panjang berliku dan cukup seru.. berikut ini kisahnya..…
Sejak kelas 2 SD di
Solo, lantas merantau ke Kalimantan (saat klas 6 SD), sampai SMP dan SMA di
Banjarbaru (Kal-Sel), cerita silat Kho
Ping Hoo tak pernah lepas dari menu bacaan sehari-hari. Sewaktu lulus SMA (
1975-1976) dan tak didukung untuk kuliah di ASRI atau ITB , yang pertama muncul
dalam benakku adalah; aku ingin segera pulang ke Solo ingin ketemu Kho Ping Hoo yang rasa- rasanya seperti
“sudah kukenal sangat akrab”.
Sampai di Solo, karena masih ingin kuliah di ASRI (Jogja)
atau Seni Rupa ITB, maka aku kerja serabutan untuk ngumpulin uang buat kuliah.
Setelah sekitar 5 - 6 bulan baru sadar , kerja kasar hasilnya kecil, habis
untuk dimakan dan hanya sedikit sisa yang tak mungkin cukup untuk masuk kuliah.
Tapi kalau sekedar beli cat air, kertas dan tinta untuk
bikin komik / cergam (cerita bergambar), dan buat makan selama sebulan semasa
penggarapan , rasanya sudah cukup. Jadi,
aku mulai start bikin komik dan 3 minggu kemudian selesai satu jilid.
Aku bermaksud menunjukkan karya komikku pada Kho Ping Hoo. Setelah bertanya kesana
kemari dan menelusuri beberapa hari, akhirnya kudapatkan sebuah alamat. Kukayuh
sepeda ontelku kesana , … oh ternyata itu kantor perusahaan atau gudang atau
percetakan (?) GEMA , yang menerbitkan karya-karya Kho Ping Hoo. Tak apa, bisa
kumulai langkahku dari sini...
Aku ditemui langsung oleh boss disitu. Setelah mendengar
ceritaku dan melihat komikku dia berkata :
“ Maaf , Bapak Kho Ping Hoo tak ada ditempat, beliau selalu
menyepi menyendiri di vila untuk menulis naskah-naskahnya, jadi tak
bisa diganggu dan ditemui.. .Kemudian , soal komik… maaf, kami tidak
menerbitkan kecuali naskah ceritanya dari Kho Ping Hoo“ .. agak kecewa aku
mendengarnya, tapi aku bertekad tak mau pulang dengan tangan hampa.
“Oh, jadi kalau saya bikin komik dengan naskahnya Kho Ping
Hoo bisa diterbitkan?” tanyaku.
“Maaf, kami tak bisa … karena gambar anda masih kurang
bagus, berantakan , tidak rapi” .katanya datar.
“Maaf kalau yang begini tak bagus, terus yang bagus seperti
apa?” Tanyaku penasaran.
Boss yang baik ini langsung menunjukkan sebuah contoh komik
karya Yanes, seorang komikus senior dan sudah lama menjadi illustrator karya
Kho Ping Hoo. Itu pertama kalinya kulihat komik asli yang belum dicetak. Sangat
bagus dan mengesankan. Setelah mengamati secara seksama , aku jadi mengerti dan
baru tahu bahwa , sebelum di blok tinta,
gambar ternyata di sket dulu dengan pensil, dihapus kalau salah dan seterusnya.
Pantesan terlihat bagus dan rapi. Padahal gambarku coretan spontan tanpa sket pensil. Tentu saja
“berantakan”.
“Maaf Pak, setelah melihat contoh ini, ternyata dia pakai
sket pensil dulu, saya yakin saya juga bisa membuat yang sebagus ini Pak.”
Kataku penuh semangat.
“Maaf, anda sudah menunjukkan karya anda, dan saya sudah
putuskan tak bisa menerimanya “, katanya sambil hendak pergi. Aku segera
berdiri menghalangi jalannya. Dia
terlihat tak senang dengan sikapku. Aku terpaksa , karena hanya dengan cara itu
dia mau mendengar kata terakhirku.
“ Pak saya janji, besok saya akan kesini lagi membawa gambar
saya yang baru, kalau disket pensil dulu pasti lebih bagus.”
“ Terserah anda, yang jelas anda telah ditolak disini, jadi
tak perlu datang kesini lagi, silahkan ke tempat lain saja.” Jawabnya dengan
nada agak tinggi, setengah mengusirku, sambil berjalan pergi.
Sampai di rumah aku langsung bikin lagi 5 buah gambar
ilustrasi gerakan jurus silat. Kali ini aku sket dulu pakai pensil dan
penghapus, baru di-blok tinta. Besoknya pagi-pagi sekali aku langsung ke
penerbit itu lagi.
Walau jarak pintu gerbang “pabrik” itu ke kantor cukup jauh,
namun posisi pintu gerbang itu berhadapan lurus dengan posisi meja pak boss di
dalam kantor . Artinya siapapun yang keluar masuk gerbang akan terlihat jelas
dan langsung oleh si boss.
( hari ke 2)
Begitu mendengar suara berisik sepeda
dituntun, boss menengok , ketika melihat aku datang memasuki gerbang, wajah
si boss terlihat masam. Kuparkir sepedaku disamping, lalu segera berjalan
menuju kantor. Tapi ternyata meja Boss telah kosong, nampaknya dia menghindar
tak mau menemuiku.
Seorang staf mendatangiku dengan sopan : “ Ada perlu apa
dik? Bisa saya bantu?”
“ Saya ingin bertemu boss, kemarin sudah janji mau
menunjukkan gambar saya yang baru.”
“ Kebetulan boss sedang ada keperluan lain, bagaimana kalau
gambarnya ditinggal saja dulu, nanti saya tunjukkan pada boss? Besok anda
kesini lagi untuk tahu hasilnya.” Dia berusaha membujukku dengan halus dan
baik. Tapi aku tetap ragu, ya kalau ditunjukkan ke boss ..kalau tidak? Terus
besok dia bilang boss sudah lihat tapi tak setuju… ! Aku akan kehilangan
kesempatanku selamanya. Mungkin ini cara halus untuk menolakku.
“ Maaf pak, kalau saya tinggalkan gambar ini, toh besok saya
harus kesini lagi. Jadi saya bawa pulang saja, besok saya bawa kesini lagi.
Saya hanya ingin boss langsung lihat sebentar dan memutuskan..”
Besoknya ( hari ke 3
) terulang lagi kejadian itu, aku datang pagi-pagi, suara sepedaku yang berisik membuat boss menengok, lalu aku
ditinggal pergi lagi, lalu aku juga menolak lagi untuk meninggalkan gambarku
disana.
Besoknya ( hari ke 4)
aku datang lagi, kali ini kupakai ‘strategi ‘ baru. Kutitipkan sepedaku pada tetangga
diluar “pabrik”. Kemudian aku berjalan mengendap-endap masuk gerbang dan
menyelinap ke kantor. Boss yang sedang sibuk dan focus dengan pekerjaan di
mejanya tak mendengar kedatanganku.
“ Selamat pagi pak..”.. boss terlihat kaget melihat aku
tiba-tiba sudah di depan mejanya. Dia benar-benar tak senang, sampai kehilangan
kata-kata. Hanya wajahnya yang merah dan matanya menusuk tajam.
“Kamu lagi..! “ katanya ketus.
“Maafkan saya pak, saya hanya ingin ketemu bapak semenit
saja. Tolong lihat gambar saya yang baru, setelah itu saya tak akan datang
kemari lagi.” Kukatakan itu sambil (tanpa diminta) membuka gambarku di mejanya
tepat di hadapannya. Jadi, suka atau tidak, pasti akan terlihat juga.
Dia hanya melihat sekilas dan cepat menyahut , masih dengan
suara ketus.
“ Sudah..sudah… tinggalkan disitu… nanti saya lihat.. ”
Katanya sambil berdiri dan pergi meninggalkanku. Stafnya mendekati aku : “ Dik
kelihatannya boss marah, besok saja anda kesini lagi ya...”
Besoknya aku datang
lagi. Sejak kemarin perasaanku sudah datar dan tawar-tawar saja, tak terlalu
berharap pada boss itu, tapi hanya berdoa dan memohon pada BOSS MAHA BESAR yang diatas sana.
Ini hari yang ke 5
aku datang kemari. Mendengar suara
berisik sepeda dituntun, boss menengok , ketika melihat aku datang, wajah
si boss terlihat tersenyum..… tersenyum? …lho gak salah? … benar
tersenyum kok.. !! .. waahh..?? … aku yang tadinya sudah nothing to loose,
sekarang malah jantungku jadi berdegup kencang. Begitu aku masuk ruang kantor,
si boss langsung berkata:
“Nah, kalau gambarmu seperti ini sih , bisa diterima
disini…”katanya sambil menjabat tanganku. Untuk sesaat aku seperti disambar
petir, kaku, tak bisa bergerak dan berkata-kata. Hanya merinding di seluruh
tubuhku.
“Kita ada rencana membuat novel Kho Ping Hoo menjadi komik
cerita bergambar ( cergam ). Sekarang saya ingin tahu bagaimana kemampuanmu
membuat scenario untuk naskah Kho Ping Hoo yang ini.” Si boss memberi setumpuk
novel Kho Ping Hoo berjudul : Si Tongkat Sakti. (Liong San Tung Hiap).
Dua hari kemudian , setelah sebagian scenario untuk komik itu selesai kubuat dan di setujui , maka urusan terakhir adalah mengisi formulir macam-macam, termasuk kontrak kerja dan sebagainya. Setelah selesai semua.. resmi sudah aku membuat komik dengan naskah Kho Ping Hoo.
Setelah urusan teken meneken kontrak tuntas , kamipun berjabat tangan … selesai.. Tapi si boss rupanya merasakan suasana yang aneh.
Setelah urusan teken meneken kontrak tuntas , kamipun berjabat tangan … selesai.. Tapi si boss rupanya merasakan suasana yang aneh.
“ Herri , kenapa masih duduk disini? Urusan kita sudah beres disini, anda tinggal mulai bekerja saja, … silahkan … anda sudah boleh pulang .”
“ Yaa.. itulah masalahnya pak.. saya mulai kerja pakai apa? “
“ Apa maksudmu..?”
“ Untuk membuat komik kan perlu kertas, tinta dan peralatan macam-macam .. satu jilid butuh waktu satu bulan, .. selama itu kan saya juga harus makan pak?..
“ Lha iya dong… terus maksudmu apa..?”
“Yaa.. terus semua itu saya dapat dari mana pak? Uang saya sudah habis buat komik pertama yang dulu bapak tolak itu”
“ Jadii…?”
“ Yaa.. kalau boleh saya mau pinjam uang dulu pak buat biaya hidup satu bulan , nanti kalau komiknya sudah jadi , akan saya kembalikan...”. kataku sambil menebalkan muka.
Suasana menjadi hening. Si boss menatapku tajam, dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala. Sesaat kemudian tawanya meledak berkepanjangan :
“Wah..wah..waaah.. kamu ini betul-betul modal dengkul ya? … sudah modalnya dengkul , ngeyel lagi.. ha-ha-ha-ha.. “
Aku cuma ikut ketawa kecut sambil menimpali:
“ Iya pak , buat saya dengkul = tekad. .. Dimana ada dengkul dan ngeyel, disitu pasti ada jalan… hehehe..”
Karena pagi itu belum ada uang di kas, si boss merogoh uang dari kantongnya sendiri, dan memberikannya padaku tanpa tanda terima apapun, artinya dia percaya padaku.
“ Ini ada Rp 10.000,- cukup untuk hidup sendiri sebulan. . dikembalikan lho ya.. dan segera selesaikan komiknya.” Kata si boss sambil ketawa.
Belakangan aku baru tahu si boss yang baik hati ini adalah anak menantu Kho Ping Hoo, waktu itu aku hanya tahu panggilannya Pak Bun atau Koh Bun. Yaa.. beliau adalah Bunawan Sastraguna Wibawa yang menakhodai CV Gema.
CATATAN
Akhirnya aku memang tak pernah sempat bertemu langsung dengan Kho Ping Hoo.. tapi bisa “berkolaborasi” dalam karyanya saja sudah merupakan kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi anak muda dan pemula seperti aku... Mengingat juga bahwa karya-karya Kho Ping Hoo, adalah salah satu yang cukup banyak menuntunku pada masa remaja, dalam masa pencarian jati diri…
Tahun 1976-1977, aku sempat mengerjakan “ Si Tongkat Sakti” 7 jilid (judul asli: "Liong San Tung Hiap") , kemudian “ Patung Dewi Kwan Im” ( baru sampai jilid 5 ). Saat itu aku mendapat honor Rp 30.000,- per jilidnya. Aku bisa selesaikan satu jilid ( 64 halaman) dalam waktu 3 minggu, Bandingkan dengan Yanes, yang satu jilid saja bisa sampai 2 – 3 bulan lamanya (mungkin sebagai illustrator senior, ordernya terlalu banyak menumpuk). Karena kinerjaku dinilai bagus dan cepat, aku dapat kenaikan lagi, menjadi Rp 45.000,- per jilid. Seorang komikus senior yang sejak SD aku sudah sering baca komiknya, Ricky NS (almarhum) , yang biasa memasukkan komiknya ke Jakarta, takjub melihat honorku. Katanya itu tinggi sekali, lebih tinggi dari para senior di Jakarta. Itu sebabnya , setelah aku berangkat merantau ke Bali, kudengar posisiku digantikan Ricky NS .
Baca tulisan terkait topic ini:


Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
tulis komentar, pertanyaan, usul / saran disini