“Kami Anak Indonesia Juga lho….”


Lukisan realisme tentang anak-anak Indonesia Karya Herri Soedjarwanto
Hari Anak Nasional (23 Juli) tahun ini, juga HUT Kemerdekaan RI yang ke 65 kali ini ,  mestinya membuat kita menunduk dan merenung lebih dalam, karena banyaknya anak-anak Indonesia yang masih bermasalah. Baik di kota maupun di desa. Padahal mereka adalah generasi penerus bangsa ini. Masih banyak anak yang kekurangan gizi..busung lapar bahkan mati kelaparan. Jutaan anak tak berpendidikan, jutaan putus sekolah, jutaan pekerja anak, jutaan anak jalanan, anak terlantar … dengan segala ekses negatifnya… narkoba… psk anak… kekerasan terhadap anak, kriminalitas… dan masih sederetan panjaaang lagi… 
Saya termasuk yang banyak “mencatat” kedalam  lukisan (melukis)  tentang anak-anak yang terpinggirkan ini. Beberapa diantaranya  secara bertahap akan saya tayangkan disini
"Makan malam"
karya: Herri Soedjarwanto
Lukisan ini dikoleksi oleh seorang dari Jakarta yang menurut pak Dullah, dulu pernah dekat dengan Bung Karno. (saya tak tahu siapa beliau, sengaja catatan  ini saya cantumkan, dengan harapan bisa mengetahui keberadaan lukisan ini).

Di tepi jalan, didepan sebuah gedung bioskop, dibawah poster film “American Fever”, di tengah lalu lalang ceria orang mencari hiburan malam…. seorang anak dengan bapaknya duduk bersimpuh di trotoar sedang menikmati makan malam mereka, dari hasil meminta-minta. Sang bapak memegang batok kelapa sebagai ganti piring….. dan merekapun makan sebatok berdua.

 
"Bocah-bocah Stasiun"oil / hardboard 70x90cm
karya
Herri Soedjarwanto.
Koleksi Boss BNI Pusat Jakarta
Sekumpulan anak jalanan  di sebuah stasiun, ada penjual koran, penjaja es lilin, dan seorang bocah penyemir sepatu yang sedang menghisap rokoknya. Koran di tangan si anak bertanggal 23 Juli , dan terdapat logo Hari Anak Nasional…. Jam di stasiun menunjuk pukul 08:20 pagi, saat dimana seharusnya anak-anak sedang bersekolah. Di latar depan ada sobekan koran bertuliskan "..Saya Anak Indonesia…".. terbuang dalam  kotak sampah…

"Bayi Rakyat", oil/canvas, 90x120cm.
Karya: Herri Soedjarwanto
Koleksi Boss BNI Pusat Jakarta
Seorang bayi yang masih merah, terpaksa ditinggalkan ibunya dan dipasrahkan  kepada kakak-kakaknya yang masih bocah pula. Si Ibu harus pergi mencari nafkah dengan berjualan masakan di pasar.
Nampak si bayi dalam dekapan dan ditunggui  kakaknya yang masih kecil-kecil didalam ruang dapur yang runtuh sebagian temboknya. Di sekitarnya berserak alat-alat dapur bekas memasak. Di dekatnya nya seekor anjing kampung sedang mengintai kesempatan mencuri makan. Di luar , si ibu sedang berangkat , menyunggi meja terbalik di kepalanya. Di meja itu diletakkan panci masakan, piring , gelas periuk, kompor dan alat berjualan lainnya. 




'Sudut Desa Pejeng, Bali"
karya: Herri Soedjarwanto


CATATAN "Bayi Rakyat": Yang kulukis diatas adalah sebuah kejadian nyata yang kulihat dengan mata kepala sendiri, rutin, setiap hari, selama satu bulan penuh..

Ceritanya aku sedang membuat lukisan pemandangan alam “Sudut Desa Pejeng, Bali”. Lukisan Desa Pejeng itu kukerjakan secara langsung di depan obyeknya setiap hari (jam 6-9 pagi) selama30 hari penuh.

Nah… posisiku melukis, pas disebelah rumah si bayi itu. Beberapa hari setelah lukisan itu selesai, barulah aku garap lukisan “Bayi Rakyat” ini.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...