Dullah dalam kenangan Herri Soedjarwanto



" Kalau cara nggambarmu nonstop -siang malam sampai pagi - seperti ini, .. nampaknya kamu akan sangat cocok dengan pak Dullah.. beliau kalau melukis juga sampai pagi... "..kata para pelukis tua 

Hari ini tanggal 19-September. Tiba-tiba saya teringat  pak Dullah… 19-9-1919 ..Yaa.. susunan  angka yang sangat istimewa ini adalah hari kelahiran Dullah, pelukis Istana RI semasa Presiden Soekarno (Bung Karno).
Orang menyebutnya pelukis pejuang, pelukis rakyat, juga  Raja Realisme Indonesia. Saya sangat beruntung sempat sangat dekat, bahkan sempat hidup seatap dengan beliau selama beberapa tahun di Sanggar Pejeng Bali. Bagi saya beliau adalah guru , bapak dan  sahabat saya. Untuk mengenang pak Dullah, mulai hari ini saya akan memuat serial  kisah
pengalaman saya dengan  pak Dullah. Cuma kisah pendek, kecil, sepele , dan biasa saja, namun semoga ada manfaatnya.. 

Kondisi awal menjelang bertemu Dullah

Saat itu saya baru lulus SMA di Kalimantan , pulang ke Solo, sempat kerja kasar dan akhirnya masuk sanggar HBS. Sambil  belajar lukis di HBS saya juga menggarap komiknya Asmaraman S Kho Ping Ho.  Mencari tenang dan sepi, saya kerjakan komik itu di Taman Jurug, di tepian Bengawan Solo. Saya kerja nggambar dari pagi siang malam sampai pagi lagi setiap hari,.. agar bisa cepat selesai dan cepat dapat uang guna  melanjutkan kuliah. Namun hampir setahun, uang belum cukup terkumpul juga.  Sementara itu banyak nasehat dan masukan dari para pelukis tua yang menjengukku  “di pertapaanku ”  di  Jurug.

“ Kalau melihat cara nggambarmu yang nonstop -  siang malam sampai pagi - seperti ini, .. nampaknya kamu akan sangat cocok dengan pak Dullah…beliau kalau melukis juga sampai pagi… Cobalah kamu pergi ke Bali..menemui  pak Dullah.. beliau sedang mencari murid yang bisa menemani dan mendampinginya melukis  sampai pagi. Muridnya yang ada sekarang, sehabis dunia dalam berita TVRI jam 9 malam, sudah pada tidur,.. Mbok dicoba ke Bali.. sepertinya  pak Dullah akan cocok dengan kamu…”


Kata-kata  para pelukis tua itu  menyentak dan mengingatkan saya bahwa tujuan dan cita-cita saya  sejatinya adalah menjadi pelukis.. bukan illustrator atau komikus. Sejak itu saya mulai berpikir dan bersiap-siap  untuk melangkah  ke Bali menemui pak Dullah. Satu langkah yang akhirnya kemudian merobah jalan hidup saya.
(...bersambung...)


baca juga sambungan / yang terkait topik di atas:
Membanting pintu pelukis Dullah..!! (klik)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...