“Mona Lisa”- nya Leonardo Da Vinci tak ada apa-apanya?

serial: Memahami lukisan realisme. 
Dalam sebuah perjalanan saya pernah bertemu  seseorang yang bercerita dengan bangga bahwa dia pernah ke Museum Louvre Paris :


"Mona Lisa" karya Leonardo Da Vinci
’’ Saya sudah melihat secara langsung lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci", katanya, "..terus terang saya tidak terkesan. Saya tak habis pikir kenapa lukisan wanita setengah badan seperti itu, bisa sangat terkenal di dunia, padahal biasa-biasa saja, tak ada apa-apanya... Saya pikir banyak lukisan-gadis di Indonesia  bahkan lebih cantik… dan…lebih bagus kualitasnya,” begitu ujarnya dengan sepenuh yakin.. tanpa rasa bersalah.

Begitu landing dan berpisah di bandara Sukarno-Hatta Cengkareng nama dan wajah  boss yang “menyenangkan” itu  tak pernah saya  ingat lagi, namun kata-katanya yang seolah tanpa dosa itu, terus terngiang mengusik pikiran dan perasaan saya.. 
Dan segera  menyadarkan  saya bahwa di masyarakatpun banyak pemahaman dan pengertian yang keliru soal lukisan realisme, terutama menyangkut  soal bobot, mutu dan  kualitas sebuah lukisan.. 

Mengapa orang bisa  begitu salah melihat dan menilai sebuah lukisan ?
padahal masih bercorak realisme,  yang konon katanya semua orang bisa menilai?..

Banyak  jawaban canggih dan panjang untuk masalah itu. Tapi kali ini, disini, kita hanya coba lihat dari satu sisi saja, secara singkat dan sederhana. Menurut saya, salah satu faktor yang penting adalah : Kenyataan bahwa 'boss' itu melihat Mona Lisa terpajang  di dinding museum 'sendirian’, kiri kanannya kosong, tak ada lukisan lain sebagai pembanding. Dia hanya  bisa melihat dari jarak jauh dan tak bisa berlama-lama pula..
(lihat posisi Mona Lisa di museum Louvre pada artikel TEMPO di bawah)

Jadi.. dia melihat Mona Lisa ( dengan tidak begitu jelas ) di satu ruang dan waktu tertentu,.... lalu mencoba membandingkan dengan lukisan-lukisan lain  didalam benaknya,  yang pernah dilihatnya, pada ruang dan waktu yang berbeda pula…! 

Harus saya katakan bahwa membandingkan seperti itu tidak mudah dan tidak fair… para pakarpun bisa salah.. bisa saling berpolemik tentang hasil penilaian dengan cara seperti itu. Karena lukisan yang diperdebatkan, yang  mau di timbang/ dibandingkan tak ada dihadapan. Semua bisa menjadi bias, salah persepsi, tak obyektif  dan menjadi ajang pinter-pinteran omong belaka. Padahal ini kan masalah seni “rupa”.  Idealnya,  ya .. rupa ketemu rupa… lukisan ketemu lukisan , biarkan mereka ‘berdialog’ atau bahkan ber ‘duel’ sendiri.. Maksud saya begini….


Menimbang bobot lukisan realisme. 

Ada cara sederhana untuk menimbang bobot sebuah lukisan realisme
Pertama pastikan bahwa Anda masih punya hati nurani yang peka dan jujur… 
Kedua,… jejerkan / sandingkan berdampingan dua lukisan yang akan  Anda nilai.

 Dengan berdampingan akan terasa sekali perbedaan getaran dua lukisan tersebut.. dan sangat mudah terdeteksi oleh perasaan yang peka dan jujur, mana yang lebih ‘berbobot’ mana yang lebih ‘enteng’ atau ampang ( hampa tak berbobot )… atau .. apakah lukisan itu memang seimbang bobotnya. 

Tidak ada cara lain, dan dengan cara begitu,  seandainya ‘Mona Lisa’ didampingkan dengan ‘lukisan gadis’ yang lain,  maka akan terasa lukisan lain itu terasa enteng, seperti  kapas melayang-layang,... kalah bobot jauuhh… bahkan bukan kelasnya..!   

Satu hal lagi perlu diingat dan digaris bawahi bahwa lukisan realisme dibuat dengan cara seksama, dibangun perlahan, penuh ketelitian,  hati-hati penuh ketenangan, penuh perasaan,.. lamaaa... berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. …. Sehingga  untuk bisa menikmati dan menilai  lukisan realisme  dengan benar, mengupas sampai ke intinya,  berdialog dan mendengar pesan-pesannya pun, harus dengan cara yang sama seperti itu…. Tak bisa grusa-grusu… dan serampangan saja …


 “Mona Lisa “ tak ada apa-apanya?.... Yang benar saja…. 

..apabila sebuah karya mampu menembus ruang dan waktu sampai berabad-abad .. pastilah dia sebuah karya besar.. apapun alasannya.. ( Mungkin karena modelnya istri saudagar terkenal,.. dilukis oleh seniman / manusia besar dan terkenal.. atau bahkan karena kontroversi siapa sebenarnya Monalisa? Apakah dia wajah Da Vinci sendiri ? ..atau..?.. dan seterusnya… atau… hal-hal  lain lagi ) …

Dan satu hal lagi, terlepas dari itu semua , secara fisik .. lukisan yang sejatinya hanya terbuat dari susunan lapisan warna cat itu berhasil dideteksi oleh para pakar  bahwa Monalisa , sang model,  memiliki golongan darah apa, dan mengidap penyakit apa semasa hidupnya..!! … 

Bisa dibayangkan betapa luar biasanya Da Vinci  ‘memindahkan’  model Mona Lisa kedalam kanvasnya .. (Herri Soedjarwanto)

-Tulisan terkait Mona Lisa di wikipedia  
-->
- - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - -
"Mona Lisa" Tetap Tersenyum Meski Dilempar Cangkir
TEMPO Interaktif , Paris – Seorang wanita Rusia melemparkan cangkir keramik ke lukisan wanita yang paling terkenal di dunia. Ya, maha karya Leonardo da Vinci, lukisan bejudul "Mona Lisa", mengalami percobaan perusakan namun berhasil selamat tak kurang suatu apa pun.
monaq lisa
Mona Lisa di Museum Louvre
Mona Lisa di Museum Louvre, Paris
Pengunjung Museum Louvre Prancis, yang berdiri di depan lukisan “Mona Lisa” akan terhalang oleh dinding kaca anti peluru. "Seorang perempuan muda mengambil cangkir dari dalam tasnya dan melemparkannya di atas kepala orang lain yang melihat lukisan itu. Cangkir itu membentur kaca anti peluru dan tak ada lecet," ujar juru bicara. 
monaq lisa
"Ini seperti yang dilakukan oleh seseorang yang gusar dan ingin menarik perhatian kepada dirinya sendiri," katanya. 

Perempuan itu tidak memberikan perlawanan ketika penjaga museum menangkap setelah insiden yang terjadi pada 2 Agustus lalu. Selanjutnya, Ia diserahkan ke polisi, namun selanjutnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa.

Museum Louvre, merupakan museum seni terbesar di dunia, setidaknya ada ribuan lukisan. Setiap tahun ada jutaan pengunjung untuk melihat lukisan Mona Lisa, yang dikenal oleh warga Prancis dengan sebutan La Joconde.

Lukisan yang telah berumur 500 tahun itu pernah dicuri pada tahun 1911 dari Louvre, tetapi kembali dua tahun kemudian setelah pencurinya ditangkap di Italia. Mona Lisa juga pernah dirusak dengan menggunakan cairan asam pada tahun 1956 dan kemudian pada tahun yang sama coba dirusak lagi dalam insiden pelemparan batu.
AP| BBC| NUR HARYANTO
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...