Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

(I) Sanggar Pejeng, antara Citra dan Realita


Sebuah pendahuluan

Dullah, Herri dan seorang model
Sanggar Pejeng , sanggarnya Dullah , adalah bagian tak terpisahkan dari perkembangan seni lukis realis Indonesia. Selama ini riwayat Sanggar Pejeng seolah dimonopoli oleh orang atau pihak tertentu saja , sehingga memunculkan citra tertentu yang tak sesuai realitanya. Seolah Dullah atau murid yang lain  tak punya hak bicara , atau memang sudah bicara tapi sengaja tak didengar.

 Pertanyaan yang ingin dijawab dalam rangkaian catatan ini meliputi:

-Apa tujuan Dullah mendirikan sanggar ? Apa saja yang diajarkan Dullah ? -Bagaimana sistem mengajar Dullah ??
-Bagaimana sistem perekrutan murid / anggota sanggar.? -Apa, siapa dan bagaimana saja  jenis-jenis murid Dullah.? –Bagaimana system ekonomi sanggar? –Bagaimana  murid/ anggota sanggar mencukupi kebutuhannya? –Benarkah system mengajar Dullah menyebabkan terjadinya pemalsuan lukisan? -Sekitar pembubaran sanggar Pejeng oleh Dullah. -Siapa murid  yang dinilai kuat oleh Dullah.. ?

Mari kita awali dengan pertanyaan yang paling pokok dan  penting, karena jawaban awal ini menentukan keabsahan jawaban-jawaban selanjutnya.

Menurut  Dullah (sebagai seorang maestro), siapakah murid terbaik Dullah, murid terkuat, yang paling dipercaya Dullah, menjadi pewaris Dullah dan paling diharapkan menjadi penerus dan menyuarakan ide, gagasan realisme Dullah , cita-cita Dullah dan  Penyambung lidah Dullah… ??

Jawabannya  tak seperti yang Anda duga..  Ternyata… seperti yang terlihat  pada ‘peninggalan’  Sanggar Pejeng , maka :  Herry.S  (Herri Soedjarwanto) adalah murid  yang dipilih Dullah..!!

Kedengarannya narsis bukan ??.. tapi sekali lagi… itu menurut Dullah, bukan menurut saya.. bukan menurut  pengamat / qurator, bukan menurut wartawan/penulis, bukan menurut  Kriteria bisnis lukisan., bukan pula menurut selera  murid-murid Dullah yang lain… bukaaannn…
Tapi sekali lagi : menurut maestro Dullah.. (*dengan bukti dan fakta tak terbantahkan dari Dullah sendiri , seperti yang akan saya tunjukkan nanti*).

Memang banyak murid Dullah juga bisa mengaku-ngaku seperti itu… tapi bedanya mereka tak punya  bukti dan fakta…  Dua alat bukti yang sah dan meyakinkan (..itu kalau menurut bahasa hukum KPK.. ;-).. Biasanya mereka cuma omong besar..  katanya- katanya..,  dengan saksi-saksi konconya yang pernah menerima kebaikan, utang budi, balas budi , setia kawan… kalau bahasa sekarang orang yang sudah ‘terbeli’ atau ‘tergadai’ oleh kepentingan tertentu…

Tapi saya ingatkan : kata-katanya itu tak pernah diakui Dullah kecuali sekedar  basa-basi.. tak pernah diabadikan langsung  secara resmi dalam sebuah buku yang ditulis oleh Dullah sendiri..
Kenapa saya ungkapkan hal itu semua..??

Ada pertanyaan krusial , benang kusut tentang  sanggar Pejeng dan Dullah yang harus dijawab oleh orang yang benar-benar dekat, sehati, sepikiran , memahami  betul apa pikiran , perasaan,  cita-cita, visi dan misi  Dullah.. Orang yang dipilih oleh Dullah sendiri.. bukan sembarang orang yang sok tahu dan mengaku-aku. Yang sejatinya belajar langsung pada pak Dullah pun tak pernah..! 

Dan dengan kerendahan hati harus saya katakan bahwa: pada “masa keemasan “ sanggar Pejeng , (1977-1983) ketika semua muridnya sejak angkatan pertama sampai terakhir berkumpul disana (+/-40 orang) …. Maka   orang terdekat yang dipilih Dullah dalam konteks pertanyaan diawal tulisan ini, adalah Herri … bukan yang lain.(silahkan baca terus, bukti dan faktanya akan terungkap).

Dan kemudian Hendro.. yang menggantikan posisi Herri  sekitar 6 tahun  kemudian (1984), yaitu pada  era persiapan  pembangunan Museum.… Hendro telah terbukti  merawat dengan sangat baik seluruh karya dan warisan Dullah di dalam Museum.  
Selain itu,  jika kesehatannya baik, seharusnya Kok Poo, sebagai murid tertua mewakili generasi angkatan pertama murid Dullah. 

Apa Masalah yang membuat saya dengan sangat terpaksa menunjuk diri sendiri ?
Jawabnya: “Ada percobaan pencemaran nama baik Dullah” yang harus dijernihkan.

Beberapa waktu yang lalu ada beberapa tamu datang ke Solo. Mereka ingin tahu tentang Dullah dan sanggar Pejeng . Selama ini mereka mendengar beberapa gosip, isu-isu  miring tentang Dullah dan sanggar Pejeng  terkait dengan lukisan Dullah palsu yang beredar di pasaran.

Sebetulnya saya enggan bicara masalah itu.. Karena , kalau saya bicara blak-blakan maka itu sama saja membuka borok beberapa teman sendiri  yang terlibat langsung maupun tak langsung dengan lukisan palsu.

Tapi kali ini saya memang harus bicara, bukan karena lukisan palsunya.. tapi lebih karena nama baik Pak Dullah sedang dinodai… Beliau yang sudah banyak berjasa, dan telah damai di alam sana tiba-tiba saja menjadi terdakwa  bahwa system mengajar Dullah di sanggar Pejeng lah sumber masalah pemalsuan ini… 

Saya sungguh prihatin, murid-murid paling senior yang seharusnya membela nama baik Dullah , malah ikut nimbrung memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi, yang semakin merugikan nama baik pak Dullah…  

Dulu banyak orang datang menanyakan keaslian lukisan Dullah, tapi tak satupun yang pernah lolos dari seleksi ketat saya...Lalu, saya dianggap sebagai orang yang kaku, tak bisa dibengkokkan tak bisa diajak kerja sama.  Sehingga ada konspirasi untuk berusaha mengucilkan saya, menutupi keberadaan saya, bahkan menutupi riwayat kedekatan saya dengan Dullah di Sanggar Pejeng. Gilanya, beberapa orang yang dulu ikut saya ke Bali, saya ajari  nggambar sampai bisa jual gambar, ikut-ikutan hendak menutupi atau bahkan menghapus riwayat itu.

Saya belajar sabar dengan selalu mengingat bahwa:  Pak Dullah yang sudah begitu baik dan besar jasanya saja , mereka  tega mengkhianati,.. apalagi terhadap saya ..??
Pak Dullah juga sering kali berwasiat kepadaku: “ Bersabarlah Her… sekencang-kencangnya kebohongan berlari,  pasti akan terkejar oleh kebenaran.. “

Dan mungkin inilah saatnya mengungkapkan kebenaran itu. Sedikit demi sedikit… yang akhirnya nanti akan menjawab permasalahan Dullah dan system mengajarnya , sekaligus mengungkapkan kebesaran jiwa Dullah.
(bersambung.. (II)"Dullah, Herri dan Sanggar Pejeng".. klik disini )

2 komentar:

  1. mas herri sy membaca di blog anda bahwa proses melukis adalah proses meneliti,mengamati dan memahami alam. karena itu melukis juga berarti ibadah. tp ada juga yg mengatakan bahwa melukis mahluk bernyawa dilarang dlm agama. bgmn menurut anda? bgmn menyatukannya? trims mas.

    BalasHapus
  2. Bukan agama yang melarang, tapi orang..! yaitu orang yang hanya membaca teks tanpa melihat konteksnya.. Orang yg lain lagi tak melarang, karena ia melihat lebih komprehensif... Jadi ini soal tingkat pemahaman orang saja... ini masalah cukup peka, untuk membahas tuntas , butuh tulisan panjang lebar..yang para ustadzpun mungkin belum pernah dengar..dari sudut pandang pelukis realis... tunggu saja..

    BalasHapus

tulis komentar, pertanyaan, usul / saran disini