Lukisan Realisme dengan obyek Penari & Tarian Bali

Herri Soedjarwanto melukis penari Bali yang sedang menari.
Bali, pulaunya para Dewata, penuh dengan suasana dan nilai-nilai spiritual, sakral, magis, religius namun tetap cerah, ceria, enerjik, dinamis, kreatif, eksotik sekaligus tetap hangat, akrab & bersahabat, seperti tercermin dalam gerak Tari Bali.




Memang saya lahir di Jawa, namun sebagai pelukis / seniman saya “lahir” di Bali. Berbeda dengan kebanyakan pelukis lain yang menjadi “spesialis”  pada obyek tertentu ,  saya melukis hampir semua obyek yang bisa diangkat sebagai thema lukisan di Bali, tanpa memilih-milih. Sebut saja pemandangan gunung, laut / pantai, sawah, pura, kampung, desa, gubug, manusia, wajah-wajah Bali , kehidupan sehari-hari, odalan,  seni budaya, tarian… pokoknya semuanya…  bahkan sampai ke thema realitas social kehidupan ekonomi rakyat jelata di Bali yang sangat jarang disentuh seniman / pelukis lain.

Saya sering menghabiskan waktu berhari-hari  di dalam Pura ketika ada upacara Odalan besar. Biasanya setiap hari saya datang paling awal dan pulang paling akhir.  Saya datang jam 7 pagi, ketika orang belum mulai datang, dan baru pulang jam 12 malam ketika acara selesai dan orang sudah pulang. Saya tak ingin terlewat sedikitpun, ingin secara lahir batin menyerap seutuhnya semua momentum  dan suasana  yang ada di dalam Pura. Karena pada saat-saat itulah sebenarnya kesempatan untuk  betul-betul bisa melihat dan memahami Bali secara utuh menyeluruh.  Boleh dibilang mengamati  kehidupan Pura pada saat Odalan besar adalah seperti menyaksikan miniatur  kehidupan masyarakat Bali yang sangat  lengkap.

Saya mengamati dengan cukup mendalam untuk mencapai  kedalaman rasa, saat melukis nantinya. Salah satu ikon penting  yang saya amati  adalah Tarian Bali. Di situ  saya melihat sebuah  proses transformasi yang sangat menarik sedang berlangsung.

Saya menunggu  dan mengamati sejak  saat penari datang yang nampak seperti  orang biasa saja. Kemudian berhias, memakai kostum, lantas berdoa dengan dupa,  pelan-pelan mulai terasa adanya perobahan, dan pada puncaknya saat  sedang menari  di atas panggung . Ketika dia tulus ikhlas mempersembahkan tarian itu kepada Tuhan dan masyarakatnya,  maka terjadilah proses hubungan vertical dengan Tuhan sekaligus horizontal dengan masyarakat penonton. Yang membuat sang penari  seperti memancarkan aura  spiritual,  bahkan magis.
***

Catatan: Mengamati dan mengenali obyek lukisan dengan sungguh2 dan mendalam, adalah bagian penting dari proses panjang melukis (Herri Soedjarwanto)..
klik dan baca artikel terkait dengan topik diatas
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...