(II) Dullah, Herri Soedjarwanto dan Sanggar Pejeng .(update)

Riwayat  

Pelukis Dullah, Herri Soedjarwanto, Sanggar Pejeng
Dullah melukis "Kompi Widodo", Herri yang baru gabung
diminta menjadi modelnya. Sebelumnya ia juga jadi model
  beberapa figur terakhir lukisan Dullah "Jumpa di Tengah Kota"
( update foto, dokumen dan surat lain)
1970- Dullah mengajar praktek melukis di HBS (Himpunan Budaya Surakarta).
1973-Dullah mulai sering tinggal di Ubud Bali , dan diikuti oleh beberapa murid HBS.. Kok Poo , Inanta, Hok Lay dll..yg kerap disebut grup Semarang.
1974-Dari Ubud pindah ke Puri Pejeng, dan kemudian berdirilah Sanggar Pejeng.
1977 akhir,… Herri (19 tahun) berangkat ke Bali, mulai belajar pada Dullah dan  aktif di Sanggar Pejeng.

Saat Herri tiba di Pejeng, sudah ada murid-murid angkatan pertama yang telah belajar pada Dullah selama 7-8 tahun.  Usia mereka antara 30 sampai 40tahun.
  Kok Poo adalah murid pertama dan yang umurnya juga paling tua ( 40 tahun ). Lalu ada Inanta, Hok Lay, Tjwan Tik, Ping Dang, T. Yuwono.. dan lain-lain.

Disitu juga ada murid yang dibawah angkatan Kok Poo cs, dan  menjadi akrab dengan Herri  yaitu Zainal (yang sebelumnya sudah saling kenal di Solo),  Usman Munandar dan lain-lain..

Saat Herri tiba di Pejeng, Dullah dan semuanya sedang sibuk melukis, mempersiapkan “Pameran Serangan Umum Satu Maret” (1978), yang diadakan 3 bulan lagi. Dullah sedang melukis "Jumpa di tengah kota" yang sudah hampir selesai. Herri yang baru datang, diminta untuk menjadi model beberapa figur terakhir dalam lukisan itu,.juga lukisan kompi Widodo

Diluar itu Herri harus menyelesaikan dulu persoalan bagaimana bertahan hidup di Bali, selain belajar melukis.  Tapi akhirnya Herri berhasil  juga menyelesaikan satu lukisan untuk  disertakan dalam pameran di Gedung Agung itu.…

Posisi Herri di Mata Dullah dan di Sanggar Pejeng

Sanggar Pejeng pasca Pameran Gedung Agung.

Herri mendampingi Dullah wawancara
dengan media dalam pameran di Jkt
Hanya kurang lebih  setahun kemudian (1979) ,  Herri telah mengalami kemajuan sangat pesat dalam melukis realisme, boleh dibilang ia melampaui para seniornya. Sehingga ia sangat dipercaya oleh Dullah melebihi siapapun di dalam Sanggar Pejeng. Hal itu dibuktikan dengan beberapa peristiwa / hal penting yang tercatat dalam ‘peninggalan’ sejarah Sanggar Pejeng. Dimana pada saat itu semua murid Dullah anggauta Sanggar Pejeng  sejak angkatan pertama sampai terakhir berkumpul lengkap disana (+/-40 orang). 

Saat itu hanya Herri dan KokPoo saja yang secara tetap menemani  Dullah tinggal di Studio Puri Pejeng. Selain di Puri, diluar Puri Herri juga mengontrak rumah penduduk. Kalau banyak murid tua datang , studio penuh sesak, maka Herri sebagai yang muda mengalah pindah ke rumah untuk sementara.

 Sementara itu,... mundur sejenak…, pameran di Gedung Agung , ternyata banyak menarik minat orang  untuk belajar di Sanggar Pejeng.. mereka berdatangan dari segala penjuru.. sehingga jumlah anggotanya sejak angkatan pertama sampai terakhir yang ada disana menjadi sekitar 40an orang.  Herri sendiri beberapa bulan kemudian banyak membawa  teman-temannya dari Solo  ke Pejeng , diantaranya G. Munis, Santosa, Nur Ali, dan lain-lain…

Keadaan ini mau tak mau memaksa Dullah harus merubah sistem dalam mengajar dan pola hubungannya dengan para murid ..

Di Studio Dullah, Sanggar Pejeng kumpul,
 rapat, suk-sukan.
Dulu pada generasi pertama (Kok Poo , Inanta cs…) muridnya hanya 5-6 orang hingga bisa hidup bersama dan belajar langsung pada Dullah, kemudian ditambah seorang lagi yaitu Herri, yang memang didatangkan untuk menemani Dullah begadang melukis sampai pagi.

Sekarang ketika sudah berjumlah 40 orang murid, sudah tak mungkin lagi semua ketemu dan belajar langsung..tentu akan sangat mengganggu, mengingat Dullah juga semakin sibuk  banyak pesanan. Dullah berpesan tegas pada Herri:” Kalau belum bisa melukis bagus, anak-anak jangan dibawa kesini Her.. “  dan pesannya  kepada  anggota sanggar:” Kalau ada kesulitan tehnik, kalian  tanya ke Herri atau Kok Poo, jangan langsung ke Pak Dullah”.

Dan  itu  adalah penunjukan lisan langsung  Herri dan Kok Poo sebagai asisten Dullah untuk mengajar dan membimbing tehnik melukis di studio maupun di luar (landscape). Pada prakteknya, karena Kok Poo sibuk dalam urusan administrasi, Herri lah yang lebih banyak membimbing teman-teman. Sementara Zainal mendapat tugas  mengajari sketsa.

Selain itu, inilah fakta-fakta  yang menunjukkan sejauh mana
pentingnya posisi Herri di mata Dullah dan Sanggar Pejeng:

1)- Dullah memilih muridnya yang terbaik dan terkuat, untuk tugas yang berat dan penting:
Suharto Serangan Umum 1 Maret
"Pak Harto malam menjelang SU 1 Maret
memeriksa persiapnan Gerilya di Patuk."

karya ; Herri Soedjarwanto
Koleksi Istana Negara RI/ Istana Merdeka


2)-Th 1979 – Sketsa wajah Dullah karya Herri, diakui Dullah sebagai sketsa paling kuat dan paling persis,dan diabadikan dalam catalog.

Sketsa wajah Dullah karya Herri Soedjarwanto
Di dalam katalog “Pameran 400 Lukisan Realistik karya Dullah dkk.”, (yang merupakan catatan peninggalan penting  Sanggar Pejeng)... Untuk wajah peserta pameran, harus memakai sketsa.. tak boleh foto. Pada waktu itu semua murid berlomba membuat sketsa wajah Pak Dullah, dan berharap sketsanya yang dipilih Dullah.
Tapi lagi- lagi terbukti ,  Dullah memilih  Sketsa Herri. Sketsa itu mendapat penilaian dan pengakuan dari Dullah sebagai sketsa paling kuat dan paling persis. Sketsa wajah Dullah itu kemudian diabadikan dalam peninggalan penting Sanggar Pejeng tersebut.

3)- Herri masuk 9 murid terbaik pilihan Dullah versi catalog  “Pameran 400 Lukisan Realistik karya Dullah dkk.”

Katalog Pameran Jakarta  1979 , catatan
terpenting terlengkap tentang Sanggar Pejeng
Katalog  berwarna yang tergolong ‘lux’  pada jamannya ini, pada hakekatnya adalah Prasasti  terpenting dan terlengkap  tentang Sanggar Pejeng yang dibuat Dullah . Disitu tercatat lengkap semua murid Dullah sejumlah 34 orang beserta karyanya. Tapi hanya 10 orang (termasuk Dullah) yang  Foto  lukisannya masuk catalog, dipilih langsung oleh Dullah. Dari lukisan yang dipilih dan dimuat di catalog itu, dengan gamblang orang bisa melihat  siapa saja  yang “masuk 9 besar” murid pilihan Dullah. Mereka  adalah, Kok Poo, Herri,  Inanta,  Zainal, Us.Munandar , Raka, T.Yuwono, Tjwan Tik, M.Toha.

4)- 1979 “Pameran 400 Lukisan Realistik…”. akan digelar di Jakarta . Di Bali, Dullah menunjuk Herri (murid termuda) sebagai Ketua Pameran, bertanggung jawab mempersiapkan 400 lukisan.

Persiapan Pameran di Aldiron Jakarta. Pengepakan pigurapun
kelompoknya harus disesuaikan dengan rancangan Herri, 

agar tak  meleset karena sempitnya waktu pemasangan kelak.
Pameran yang akan digelar di Jakarta (Aldiron Plaza), memunculkan persoalan khusus yang cukup gawat. Apa masalahnya ?

Ruangan lantai 3  Aldiron, seluas separuh lapangan sepak bola itu , akan dipasangi sebanyak  417 lukisan. Waktu itu belum ada sketsel, jadi harus bikin desain sendiri.  Herri ditugas oleh Dullah , merancang ruang dan sketselnya  agar cukup untuk memasang 417 lukisan. Beberapa hari kemudian, belum lagi selesai rancangan itu, datang khabar  yang lebih gawat lagi..

Rencana pembukaan tgl 20 Des 1979, jam 5 sore… Tapi Aldiron tgl 19-Des malam masih dipakai acara lain. Setelah jam 1-2  malam baru bisa memasukkan 400 lukisan dan memasukkan tukang beserta plywood untuk membuat sketsel. Dan semua harus selesai , rapi bersih sebelum jam 5 sore.. !!

Ketika semua teman-sanggar terus menyelesaikan lukisan, Herri terpaksa berhenti , demi merancang detil-detil pemasangan lukisan di Aldiron nanti. Padahal selain itu Herri juga masih harus ngebut menyelesaikan lukisan Pak Harto untuk mendampingi lukisan Bung Karno-nya pak Dullah.


Renc Pembuatan sketsel, penyusunan, pemasangan
dan juga  penataan 400 lukisan di Aldiron
yg dibuat Herri secara detil selama 2 minggu.

(klik kanan gambar, open new tab, untuk membesarkan)
Sekitar 2 minggu , selesailah rancangan itu, sehingga Herri bisa melukis lagi. Kenapa lama ? …Waktu pemasangan lukisan yang sangat sempit, memaksa Herri harus menghitung setiap ukuran lukisan, dibandingkan dengan ukuran sketsel dan ruangan, juga waktu pemasangan.  Bayangkan saja, menggantung 417 lukisan, baru bisa dimulai nanti setelah Sketsel siap sekitar jam 9 pagi.  Pada hal, jam 5 sore nanti sudah peresmian oleh Wakil Presiden..!!

Rancangan yang sangat detail itu memastikan bahwa: Lukisan si A berjudul  Anu ukurannya sekian terletak tepat  di titik ini..Tak boleh tertukar lagi karena sudah tak ada waktu lagi untuk berpikir , harus kerja seperti robot. Anak sanggar dibagi 10 team, tiap team terdiri dari 3 orang. Tiap  team  bertugas memasang 40 lukisan yang sudah dikelompokkan dan sudah dipastikan letaknya juga jangka  waktunya,  semua sudah dihitung cermat dan direncanakan sejak di Bali, oleh Herri.

*Kelak pada hari H, pada saat Pak Adam Malik ( wakil Presiden RI) terdengar sedang menyampaikan pidato pembukaan, tepat pada saat itulah lukisan terakhir  sedang  dipasang.!! Tak  terbayangkan apa yang terjadi,  seandainya pemasangan itu tanpa rancangan yang mendetail…bisa berantakan pameran ini.. *


5)-1980  Dullah menunjuk  Herri (murid termuda) menjadi Ketua Delegasi  Sanggar Pejeng untuk memasang lukisan perjuangan di Istana Kepresidenan Yogyakarta “ Gedung Agung”.

Setelah usai  “Pameran 400 Lukisan Realistik…” di Jakarta, lukisan dibawa pulang ke Sanggar Pejeng, Bali…

Surat Dullah menugaskan Herri
 menemui (menelpon) p Gafur soal
Lukisan di Istana (depan)
Surat Dullah menugaskan Herri
menemui (menelpon) p Gafur soal
 Lukisan di Istana (belakang) 
Beberapa waktu kemudian dari Jakarta terdengar berita bahwa pihak Istana Negara ada rencana untuk membeli semua karya Lukisan Perjuangan, tapi ingin melihat seluruhnya dulu, dan minta untuk di pasang  di Istana Kepresidenan Yogyakarta “Gedung Agung”. Konon akan diperiksa langsung oleh Pak Harto, sewaktu-waktu beliau ke Yogya.

Dullah memanggil beberapa muridnya dan menunjuk Herri sebagai ketua delegasi, meskipun saat itu  Herri adalah murid yang termuda. Anggota lain yang berangkat bersama Herri adalah : Tjwan Tik (Pringgo Utomo) , T. Yuwono, Usman Munandar, Zainal,  dll… Mereka berangkat dengan membawa sekitar 20 an lukisan Perjuangan. Menginap selama beberapa hari di Gedung Agung.

Setelah kembali ke Bali,  agak lama kemudiaan , barulah ada kabar  bahwa pihak Istana akhirnya hanya membeli satu lukisan saja , yaitu  lukisan tentang Pak Harto , karya Herri, : “ Letkol Suharto, Malam menjelang SU 1 Maret”. Itu lukisan yang dibuat  pada saat-saat terakhir untuk mendampingi lukisan Dullah “Bung Karno di Rapat Ikada”… sehingga kedua lukisan itu malahan   tak sempat masuk catalog.

6)- 1981 secara resmi tertulis Herri  bersama  Kok Poo ditunjuk sebagai asisten  Dullah untuk membimbing dan mengajar  tehnis melukis pada anggota sanggar, dan Zainal membimbing  sketsa..



7)-Sanggar Pejeng dibubarkan Dullah.. Herri  membentuk Sanggar Pejeng Baru diluar Puri Pejeng. 

Sekitar tahun 1981-an, banyak masalah mendera Sanggar Pejeng.  Dari masalah narkoba sampai masalah social yang berkaitan dengan penduduk sekitarnya.  Dulah sangat malu dan  murka sehingga memutuskan : Sanggar Pejeng Dibubarkan..!!  

Keputusan ini tentu saja sangat meresahkan  semua anggota sanggar, juga  mereka yang baru saja  datang  dari Jawa, dan belum sempat masuk sanggar.  Maka sekitar 20an orang lebih,  mendatangi Herri, meminta Herri untuk membentuk dan memimpin Sanggar meskipun tanpa pak Dullah. 

Herri melukis langsung di desa Pejeng Bali
Herri melukis langsung di alam bersama. Rutinitas tiap pagi
tak berubah meskipun sanggar Pejeng  dibubarkan oleh Dullah
Memang pada prakteknya  selama ini,  kebanyakan dari mereka tak pernah belajar langsung pada Pak Dullah. Mereka lebih banyak mendapat bimbingan tehnik dari Herri, dan bekerja / berlatih dibawah koordinasi Herri.. Jadi , tak ada masalah.  Herri segera membentuk Sanggar Pejeng Baru, dan menggerakkan lagi kegiatan sanggar yang sempat mandeg.

Beberapa bulan kemudian , setelah situasi reda, Dullah berkata :” Her , pak Dullah dengar kamu membentuk Sanggar Pejeng baru?”
“Iya Pak maaf, habis kasihan mereka seperti kehilangan pegangan. Mereka orang baik-baik , tak terlibat masalah , tapi kena dampak dibubarkan. Apalagi ada beberapa yang baru saja  datang. “
“Baiklah Herri,  katakan pada mereka , Pak Dulah mau mengasuh lagi, dengan beberapa syarat, agar kasus serupa tak terulang.. . Saya juga minta daftar anggota sanggarmu”.

Dari daftar nama itu,  Dullah mencoret beberapa nama yang dianggap bermasalah dan tak berkenan di hatinya. Dan... kemudian Sanggar kembali berjalan seperti sedia kala.

8)-  Beberapa waktu kemudian, 1982  Sanggar Pejeng dan HBS Solo mengadakan pameran di Solo. Tepatnya 12-16 Februari 1982 di Monumen Pers Solo. Peserta dari Sanggar Pejeng Bali berjumlah 21 orang, semuanya menginap bermalam di rumah Herri selama seminggu lebih.

Nah , itu tadi baru sebagian . Setidaknya sudah cukup membuktikan bahwa Herri adalah orang yang berkompeten dan punya keabsahan tinggi untuk bicara soal Dullah dan Sanggar Pejeng.

Baca tulisan sebelumnya yang terkait topik diatas
(I) Sanggar Pejeng, Antara Citra dan Realita.
baca tulisan  lanjutannya yang terkait ....
(III) Sanggar Pejeng, Antara Citra dan Realita:  Lukisan Palsu dan...Sistem Mengajar Dullah
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...