masalah seni lukis realisme(2): Melukis Realisme Naturalisme, sebaiknya dari obyek langsung atau dari foto?

"Jagung di Sudut Dapur" 
Lukisan karya Herri Soedjarwanto.
Lukisan ini dibuat dengan melukis

obyeknya secara langsung
tanpa bantuan foto sama sekali

 Silahkan  saja itu hak azasi… Tapiii.. ada hal sangat penting yang harus diingat bila melukis realisme dari foto :  Hasil akhir LUKISAN  HARUS LEBIH BAGUS DARI FOTO(acuan)NYA..!
Kenapa HARUS?  Sebab kalau sampai terjadi : fotonya masih lebih bagus daripada lukisan yang dibuat berdasarkan foto tersebut, maka… lukisan itu  akan dinilai / dianggap lukisan berkualitas rendah.. sebab: " lukisannya lebih jelek dibandingkan foto acuannya.."
 Keluhan umum yang sering terdengar: " Buat apa pesan lukisan mahal-mahal, bila jadinya  kualitasnya lebih rendah dari pada fotonya?  Lebih baik  fotonya saja dicetak yang besar ".

 Akibatnya posisi lukisan diremehkan, nilai harga lukisanpun akan menjadi sangat murah. Harganya sama dengan atau bahkan lebih murah daripada harga selembar foto  dengan ukuran yang sama.  (hal tersebut sekarang ini  banyak dijumpai  terjadi  di sekitar kita).
“Apa mungkin sebuah Lukisan menjadi  lebih bagus dari pada foto acuannya?  bahkan mengalahkan fotonya?  Bagaimana bisa?”

“ Sangat mungkin dan sangat bisa..! Bahkan SEHARUSNYA BISA..!  Kenapa… ? 
Karena foto/ lensa kamera bikinan pabrik, hanya mampu merekam bentuk fisik yang terdiri dari  garis , bidang dan warna saja, secara dingin tanpa perasaan.
Sedangkan seorang seniman / pelukis punya lensa (mata) bikinan  Yang Maha Kuasa, plus mata hati dengan  kedalaman rasa yang terlatih, yang mampu melihat menembus melampaui sekedar wujud fisik saja.”

“OK.., setiap orang , bukan cuma seniman / pelukis , punya kelebihan tersebut  dibandingkan  kamera… tapi realitanya hanya sedikit  pelukis yang mampu melukis lebih bagus dari fotonya … Mengapa?”

“ Yaa..analogi sederhananya begini…  setiap orang juga punya tangan dan kepalan tinju.. tapi hanya kepalan tinju Mike Tyson yang “mampu menghentikan truk”.., mengapa yang lain tak bisa? ….
Jawaban untuk keduanya sama: …Karena kurang latihan keras atau bahkan tak pernah melatih diri untuk melakukan hal tersebut” …

“Latihan seperti apa yang diperlukan dan apa yang  ingin didapatkan dengan latihan itu?”

“ Diperbanyak melukis dari obyek langsung seperti : alam benda , model, pemandangan alam dan lain-lain. Tujuannya yang utama adalah mencari  tahu dan mempelajari  “rahasia (sifat rupa) alam”. Setelah cukup mengetahui rahasia alam tersebut, sangat kecil kemungkinan terkecoh oleh kelemahan foto”.

Para maestro dunia sepanjang jaman ,  seperti : Leonardo da Vinci, Michelangelo, Raphael, Paul Rubens, Titian, Caravagio, Vandijk, Rembrandt van Rijn, Delacroix, Vermeer, Gainsborough dan lain sebagainya tentu saja tak mengalami masalah seperti kita sekarang. Saat itu belum ada fotografi ( atau kalau pun ada  , baru ditemukan hingga masih sangat sederhana dan pemakaiannya pun masih sangat terbatas).

Orang yang butuh potret wajah ,atau pemandangan misalnya, tidak memotret sendiri dengan kamera seperti sekarang, tapi meminta atau memesannya pada para maestro itu untuk melukisnya. Para maestro  dunia itu bekerja dengan cara melukis model, atau obyeknya  secara langsung. Karena terus menerus bekerja dengan cara seperti itu, tak heran kalau mereka sangat memahami rahasia alam, dan karya-karya mereka menjadi karya  masterpiece yang abadi…

Baca tulisan yang terkait topic tersebut:  klik judul dibawah
masalah umum seni lukis realisme: Bagaimana Membuat LUKISAN terlihat LEBIH ‘HIDUP’ ?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...