REALISME YANG SEBENARNYA ( dingin, kejam, getir ), dari Seniman yang Lemah Lembut .. oleh Duncan Graham* (jurnalis Australia, New Zealand)*

Ini terjemahan dari kliping Koran The Jakarta Post (9/Feb/2016) , yg pernah diposting dengan judul : Herri Soedjarwanto & Lukisannya ;  dalam liputan The Jakarta Post 


Photos by JP/Erlin Graham, screenshoot INDONESIA NOW - The Jakarta Post
diterjemahkan dari artikel aslinya :
STARK REALISM FROM A GENTLE ARTIST, 
NO MONOCHROME ARTIST
By : Duncan Graham *(jurnalis senior Australia, tinggal di New Zealand)
(First published in  The Jakarta Post 9 February 2016)
Posted by INDONESIA NOW with Duncan Graham 11 February at 3:46 PM
http://indonesianow.blogspot.co.id/2016/02/stark-realism-from-gentle-artist.html
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 
Master of Realisme: Pelukis Herri Soedjarwanto di studionya di Surakarta, Jawa Tengah. - 
 mengatakan karya-karyanya yang terbuka bagi publik untuk menafsirkannya . - Lihat artikel asli di: http://indonesianow.blogspot.co.id/2016/02/stark-realism-from-gentle-artist.html

Jika selera seni Anda memerlukan bumbu dengan teka-teki, keingintahuan, kontradiksi, tantangan dan membingungkan-.. maka..  janganlah  mencari realisme, seperti yang dibuat oleh pelukis asal Solo Herri Soedjarwanto.
Lukisan potret nya yang molek terlihat lebih seperti sentuhan penyempurnaan photography , yang merupakan salah satu kritikan yang dilemparkan di media oleh mereka yang lebih memilih seni abstrak.

Soedjarwanto adalah seorang murid terkemuka Dullah, yang di Indonesia dijuluki Raja Realisme, favorit istana semasa pemerintahan Soekarno. Ia menyelesaikan (tepatnya melukis ulang ) beberapa karya Dullah (khususnya karya kolosal, besar, yg tak pernah selesai) , setelah pelukis tua itu meninggal karena serangan jantung pada tahun 1996.

Diantaranya termasuk adegan pergerakan kerumunan masa yang banyak , yang  menampilkan presiden pertama (Bung Karno-pen) bertemu dengan orang-orang di bawah langit yang penuh bergelombang dengan bendera merah dan putih --  fantasi dari seorang nasionalis.


Namun jika Anda berpikir lukisan tersebut terlalu unsubtle, romantis dan penuh kejayaan kebangsaan dan lebih suka penjelasan baku apa adanya, maka Anda perlu (dan harus) mendengar penjelasan dari seorang seniman seperti Herri Soedjarwanto.

"Orang-orang dapat memiliki lebih dari satu kepribadian," katanya di studionya di Solo, di mana ia sudah tinggal selama 20 tahun terakhir, dikelilingi oleh kanvas dari lantai sampai ke langit-langit. 



"Beberapa lukisan yang saya buat untuk klien,  bercorak  realistik. Seperti yang ini , pasangan Bali dalam pakaian tradisional setelah pernikahan mereka -


tapi karya-karya  saya yang lain datang (tercipta) dari  hati "
.




 Dan betapa hati yg besar itu terpenuhi oleh masalah besar – atau setidaknya begitulah tampaknya. 

Dalam satu kanvas besar, gambaran sosok Soekarno menangisi sebuah  pemandangan yang tersiksa oleh kemiskinan, penderitaan dan kekacauan. Semua mimpi Proklamator untuk bangsa yang makmur sejahtera dan bahagia hancur oleh keserakahan, intoleransi dan korupsi.


Kemudian ada suasana kehidupan pedesaan dari presiden kedua Soeharto, baju terbuka, lengan digulung, memegang seikat padi. Dia memimpin di kepala meja sarat dengan panen  produk pertanian yang dihasilkan oleh petani-petani yang tegap. Bahkan binatang buaspun terlihat senang ..

Figur ayah periang yang memegang jabatan tertinggi selama 32 tahun duduk dikelilingi oleh anak-anak montok dan warga yang puas bahagia dalam lanskap pastoral kemakmuran, subur, meskipun salah satu figur tidak-terlihat jelas di tepi kiri telah berbalik dan berjalan pergi seperti tamu yang tidak diinginkan . Demokrasi? Tidak ada seorang pun yang mengatakan.

Karya tersebut adalah:  Pak Harto si Anak Desa [Soeharto the Villager]; yang terpajang di Museum Purna Bhakti Pertiwi Jakarta Timur,.. Karya yang merayakan kehidupan dan pemerintahan presiden kedua.

Soedjarwanto mengatakan karya seni itu dibeli (tahun 1998) seharga Rp 40 juta [US $ 3.000] oleh Sudwikatmono, sepupu terakhir  Soeharto , dan disumbangkan ke museum, jelas karena pertimbangan penghormatan, penghargaan  kepada kerabatnya.

Namun lukisan itu juga telah digunakan sebagai  cover buku ”Illiberal Democracy in Indonesia “ oleh akademisi Australia Prof Dr David Bourchier dan diterbitkan tahun ini (2015, oleh penerbit legendaris Routledge di Inggris-pen)


Buku ini tentu bukan pidato pujian untuk pemimpin terakhir yang  sekarang secara luas dianggap sebagai seorang penguasa lalim yang korup yang memerintahkan menghancurkan perbedaan pendapat, kritik dan upaya artistik. Menukar wajah Soeharto dengan  Yesus Kristus , dan lukisan itu  bisa menyemarakkan dinding sebuah gereja evangelis atau  gereja karismatik yang  lebih peduli dengan puji-pujian dari pada maksud tujuan.

"Terserah pada orang-orang  lain untuk memutuskan apa arti / makna lukisan itu," kata Soedjarwanto. "Saya serahkan pada  Anda untuk menilainya. Anda pikir itu sebuah (lukisan) parodi? It’s OK."

Tapi itu menjelaskan dengan gamblang bahwa sang seniman,  yang mengenakan baret revolusioner itu, bukanlah  pencinta dari sang  jenderal yang telah menggulingkan pahlawan-nya.

Salah satu lukisan realistik terbesar di studio menunjukkan Soekarno muda dengan Fatmawati, istri kedua dari sembilan istri-istrinya.




Karya-karya yang lain  adalah potret ramah orang-orang cantik dan profesional , digarap dan diselesaikan dengan setiap rambut dan lesung pipit tepat pada tempatnya , .. atau pemandangan mengerikan dari Armageddon.


Meskipun Soedjarwanto dan Meilina istrinya yang Cina adalah Muslim, beberapa karyanya memiliki rasa suasana hari  kiamat yang dikisahkan Alkitab. 

Kapitalisme perkotaan berdiri di Cloudscape disangga dengan  tiang kurus dipegang  tegak keatas  oleh massa yang  kelaparan.  Ketika itu semua berjalan terhuyung - datanglah Apocalypse.

Old Master (dunia) yang agak mendekati (karakter Herri)  mungkin adalah  Hieronymus Bosch, seorang pelukis Belanda  abad ke-15.. Pelukis adegan pemandangan massa yang  penuh penderitaan. Namun Soedjarwanto menegaskan bahwa  pahlawan / idola nya yang sebenarnya adalah seniman abstrak Pablo Picasso [yang ulang tahunnya kebetulan sama dengan Herri - 25 Oktober],  meskipun artis  Indonesia ini belum memeluk corak Kubisme dari periode akhir  artis Spanyol itu.

Pelatihan formal Soedjarwanto di bidang seni adalah dengan Dullah,  tapi bakatnya sudah terpampang saat masih remaja ketika ia membuat komik bergambar yang hidup. Meskipun berdasarkan pahlawan nyata dan mitos Jawa (China) mereka mengikuti gaya Amerika,  dramatis, close-up, kalimat kaku dan action yang dinamis.
Garis yang tegas dan proporsional, tekniknya begitu halus dan profesional , semuanya  terlihat seolah-olah kemampuan teknis itu  datang dari veteran di sebuah studio seni komersial. .. Sangat Jelas pria ini  memiliki bakat yang luar biasa dengan kuas dan pena.


Kadang-kadang ia mengajar di kelas, tapi dia mungkin seorang guru yang sulit. Setiap murid yang mengukur kemampuan alami mereka, akan berhadapan / berlawanan dengan kekurangan-kekurangan  yang akan dia temukan

"Seperti Picasso Saya mencoba untuk menjadi multi-purpose," katanya. "Jika perasaan saya sedang baik saya melukis potret realistis, tapi ketika saya sudah merasa tertekan dengan berita dari media,  saya harus membersihkan perasaan saya,  melampiaskannya  melalui seni."..

"Saya mendapatkan ide-ide saya melalui berita dan omongan jalanan. Saya tahu apa yang menjadi kekuatiran dan kegelisahan orang. Mereka tidak memiliki surat kabar seperti politisi, tetapi mereka masih memiliki opini  yang kuat yang mereka tidak takut untuk menyebarkannya. "

Tidak ada gambar yang melibatkan Presiden yang sekarang? 
"Belum ada.. Saya sedang menunggu kepemimpinannya dan tindakannya yang bisa menjangkau dan menyentuh saya (untuk melukisnya)."

Salah satu bagian yang sangat biadab , seorang tokoh Keadilan seperti pengacara / hakim dengan penutup mata robek menusuk pedang pada timbangan yang hancur – sebuah respon untuk tragedi skandal peradilan. (Skandal Aqil Mochtar, Hakim Mahkamah Konstitusi)

Soedjarwanto mencoba untuk menjelaskan kontradiksi ini :
"Bagi saya, lukisan adalah alat komunikasi. Di dalam kehidupan sehari-hari, apakah saya  harus membatasi diri untuk berbicara tentang satu hal saja - gadis cantik, pegunungan indah atau berkonsentrasi pada kemiskinan?

"Tidak! Setiap hari saya berbicara tentang segala sesuatu dari yang sepele hingga yang serius, tentang perasaan senang bahagia .. melewati  keburukan, penderitaan dan ketidakadilan. Itulah  yang menjadi refleksi  Seni saya - segala sesuatu, semua hal. Itu  seperti sebuah buku harian yang mencatat merekam emosi saya..

"Saya tahu ini membingungkan para pembeli yang suka mengoleksi lukisan potret atau lanskap dan membutuhkan pasokan yang konsisten. Mereka ingin saya untuk mengkhususkan diri .  

Tidak apa-apa ; Aku tidak akan terintimidasi untuk kemudian berderap lari mengikuti ide-ide mereka. Aku hanya ingin jujur ​​dan mengikuti hati nurani ku, ke mana pun ia pergi. " 

Tulisan terkait : 
Para Maestro Melukis Segala Obyek 
http://herri-solo.blogspot.co.id/2012/03/pelukis-yang-melukis-semua-obyek.html

*About Duncan Graham*
CV Education: M Phil (UWA), Grad Dip Cultural Communication (Riverina), BA (Curtin) Languages: English (fluent). Indonesian (intermediate). French (intermediate). Past employers: Fairfax Press (The Age & Sydney Morning Herald – both broadsheet dailies) as a reporter and feature writers for ten years; ABC TV and Channel 9 as a presenter and producer for six years; AAP stringer for four years, Radio 6NR (manager for four years); The West Australian (Perth daily newspaper) where I did my cadetship. Awards: (All in Australia): Walkley Award for Journalism Human Rights and Equal Opportunity Media Award (Twice) Equal Opportunity Commission Media Prize (Twice) Daily News Centenary Prize; Perth Press Club Award; MBE Health Award WA Week Book Award (now the Premier’s Prize) for non-fiction. Media grants: Two from the Western Australian government, one from the Australian government. All to report on issues in Indonesia. Published books: The People Next Door (UWA Press), Being Whitefella (FAC Press), Dying Inside (A & U). SEE ALSO: www.newzealandnow.blogspot.com

Lukisan Wajah Hitam Putih.. Pensil di atas Kertas

 
Herri Soedjarwanto sedang melukis Wajah, Hitam Putih
Menggunakan Pensil diatas kertas Canson A3
Dipesan dari Jepang..
Saya tak memajang lukis wajah (drawing) hitam putih kecuali cuma satu (diantara puluhan karya saya di internet). Itupun sifatnya hanya melengkapi, maksudnya sekedar contoh bahwa: dibutuhkan pondasi sketsa / drawing yg seperti ini untuk bisa 'membangun' sebuah lukisan oil/acrylic yg seperti itu.

Dalam perjalanannya, ternyata selalu ada saja teman2 yang tertarik ingin memiliki / ingin dibuatkan drawing pencil on paper sperti itu. Awalnya saya tolak, saya persilahkan cari di tempat lain, karena sudah repot melukis yg besar-besar.

Tapi lama-kelamaan saya merasa bersalah. Nggak enak juga, mereka sudah repot2 dan jauh2 kirim foto, tanya ini itu, ujungnya cuma ditolak. (Foto yang terlanjur ditolak menumpuk sudah mencapai lebih dari 20 foto wajah)..

Periode berikutnya saya mulai 'membuka hati' menerima garapan drawing dengan selektif ... salah satunya yg dipesan jauh dari Jepang..

Ketika saya luangkan waktu,... eh.. ternyata seru juga sebagai variasi / selingan, untuk melawan stagnasi dan kejenuhan bikin lukisan besar .. semacam rekreasi .. meskipun cuma sejenak ..

lukiswajah2.blogspot.com

Melukis Wajah

Melukis Wajah
Pada hakekatnya melukis potret wajah  adalah  sebuah  fenomena proses pengendalian diri yang luar biasa. 

Karena pada dasarnya, memang lebih gampang melampiaskan emosi (energy bathin) yang meluap-luap secara garang , meledak-ledak, liar tak terkendali dan membabi buta,  ketimbang  menahan emosi, kemudian mengendalikan dan menyalurkan energinya dengan anggun, elegan, terarah dan terfokus..
Anda bisa bayangkan…
seorang seniman yang terbiasa hidup bebas merdeka lahir bathin.. .
terbiasa melepaskan segala ide dan gagasannya  melayang  tanpa batas…
terbiasa menumpahkan segala  emosi  jiwa nya yang menggelora  dengan liar dan garang  ke atas kanvas…

GALERI LUKISAN : contoh beragam Karya Herri Soedjarwanto (lihat 17 lukisan+)

GALLERY LUKISAN REALISME : 
karya Herri Soedjarwanto
Deretan lukisan + cerita seputar lukisan, dibalik lahirnya sebuah lukisan , latar belakangnya, 
proses kreatifnya ..Sharing soal jawab lukisan, Cara Pemesanan lukisan  dan banyak lagi ..
[klik gambar untuk membesarkan.. 
klik link / tulisan untuk baca kisah riwayat atau prosesnya]

Galeri Lukisan Ibu dan Anak


Lukisan Potret Wajah
" Lukisan Wajah .... "( Mei 2014) karya Herri Soedjarwanto, 
Koleksi / dipajang di  Istana Kerajaan Negeri Kedah Malaysia

Bung Karno dan Rapat Raksasa Lapangan Ikada




Dari Jalanan Sampai Lukis Presiden (klik)
Untuk baca: Klik kanan gambar ... lalu klik open in new tab

Dipesan oleh Sudwikatmono, dihibahkan menjadi koleksi:
Kisahnya bisa dibaca di kliping koran  
 klik di sini Dari Jalanan sampai Lukis Presiden
Lukisan Herri: cover buku ilmiah terbitan Routledge, Inggris 

Lukisan Herri cover buku terbitan Routledge Inggris


.. Perjalanan Lukisan.. Surat dari A.S
... Dialog dengan S. Sudjojono 
                           
"Bayi Rakyat" Karya Herri Soedjarwanto
Untuk berita terbaru tentang "Bayi Rakyat" 


Melukis Wajah Potret Pengantin..sebuah " Mission Impossible"

"Tatapan Cinta" karya : Herri Soedjarwanto
Koleksi : Museum Rudana, Bali.
                                                                               
Lukisan Dewa Kwan Kong versi Herri Soedjarwanto
Lukisan Dewa Kwan Kong, versi Herri Soedjarwanto




"Happy Family", (2013),  karya Herri Soedjarwanto.
Dalam melukis pesanan potret wajah Herri punya komitmen :
Lukisan harus lebih bagus, lebih indah dan 
lebih hidup dari pada foto acuannya.

 

Cara Membuat Lukisan Terlihat Lebih Hidup

MERIAM BAMBU, MAINAN  TRADISIONAL NUSANTARA

LUKISAN REALISME, CATATAN HARIAN di  KANVAS
" Bocah Pinggiran Stasiun " karya Herri Soedjarwanto
Sekumpulan anak jalanan  di sebuah stasiun: penjual koran,
penjaja es lilin,  seorang bocah penyemir sepatu yang ..



"Kembang Wijaya Kusuma"

Lukisan Potret Wajah, Figur, Kehidupan, Realisme Sosial,
Pemandangan Alam, Bunga, Alam benda dsb

Dewa Kwan Kong, Lukisan Water colour

Dewa Kwan Kong, Lukisan Water Colour
Herri sedang melukis  "Dewa Kwan Kong", cat air  (2015)

Lukisan DEWA KWAN KONG  lagi-lagi bawa hoki :-) ... 

Kali ini ditantang untuk bikin watercolour ...  Siapa bisa nolak? ... dapat kesempatan study chinese style, dan dibayar full pula  :-) ..   
Rasanya kaya' dapet bea siswa ... hehehe  :-D ... sangat bersyukur ..

artikel terkait:
klik di sini kisah lengkap 
Dewa Kwan Kong, 

Lukisan Pande Besi ... Gagasan dan Makna

Lukisan Pande Besi .. Gagasan dan Makna
Herri sedang melukis 'Pande Besi' (2015)
Belajar dari sepotong besi ...
Ketika ingin berobah menjadi sesuatu ...
maka dia harus rela dibakar membara untuk membuang kotoran yang menempel ..
kemudian rela menerima hantaman palu bertubi-tubi pada saat masih panas 
demi membentuknya menjadi sesuatu yang lebih bernilai


Besi berkualitas tinggi ditangan empu / pande yang handal akan menjadi alat, perkakas berkualitas bahkan mungkin menjadi senjata atau pusaka bernilai tinggi..
Sebaliknya besi kualitas buruk hanya akan rusak dan hancur saat dibakar dan digembleng.. 



Interview Lukisan Realisme by Mr Duncan Graham.



Herri dan Duncan Graham
Mr. Duncan Graham: Award-winning Journalist dari Australia yang kelahiran Inggris, datang ke Solo meliput kegiatan Presiden Jokowi di Hotel Sunan ... Selain itu , beliau juga mampir ke studio untuk interview seputar lukisan realisme sosial..... terkait dengan lukisan saya yang terpilih menjadi cover buku “ Illiberal Democracy in Indonesia”  yang terbit di Inggris .(Penerbit Routledge, 2015)
http://herri-solo.blogspot.com/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...