|
Phone:081.667.2417~[]WA: 0813.2899.6666[] Email: herri.solo@gmail.com []Facebook: herri soedjarwanto
halaman
- HOME
- DAFTAR ISI / MENU ~ Kategori Lukisan / Tulisan
- PESAN LUKIS WAJAH ?..di sini..
- PROFIL, Biodata
- HERRI dan DULLAH
- ALBUM FOTO
- Apa itu Lukis Potret Wajah
- CONTACT
- MEMAHAMI REALISME
- PROBLEMA REALIS
- LUKISAN REALISME SOSIAL
- CERITA KEHIDUPAN PELUKIS unik+nyata
- Top Diskusi
- Dari Jalanan Sampai Lukis Presiden
Kumpulan Top Comment Top Diskusi
Lukisan Realisme dengan obyek Penari & Tarian Bali
![]() |
| Herri Soedjarwanto melukis penari Bali yang sedang menari. |
Apa Kuncinya Agar Bisa Menjadi Pelukis Sukses?
"Malam-malam panjang" oil/canvas75x 105cm.
lukisan karya Herri Soedjarwanto.
Seorang sahabat bertanya via sms : “Apa kuncinya agar bisa menjadi seniman / pelukis sukses?” Spontan saya jawab singkat: ”Saya tak punya kunci sukses, saya cuma tahu kunci “ menjadi pelukis yang baik dan benar” Secara singkat kuncinya adalah : “kerja keras dengan cara benar”. Besoknya dia bertanya lagi via FORUM di blog ini: "Mas Herri, apa yang dimaksud dengan "pelukis yg baik dan benar" , apa pula maksud "kerja keras dengan cara benar" ?
Karena ditanyakan di blog ini, maka saya merasa wajib menjawabnya. Barangkali ada juga teman lain yang ingin tahu..
lukisan karya Herri Soedjarwanto.
Seorang sahabat bertanya via sms : “Apa kuncinya agar bisa menjadi seniman / pelukis sukses?” Spontan saya jawab singkat: ”Saya tak punya kunci sukses, saya cuma tahu kunci “ menjadi pelukis yang baik dan benar” Secara singkat kuncinya adalah : “kerja keras dengan cara benar”. Besoknya dia bertanya lagi via FORUM di blog ini: "Mas Herri, apa yang dimaksud dengan "pelukis yg baik dan benar" , apa pula maksud "kerja keras dengan cara benar" ?
Karena ditanyakan di blog ini, maka saya merasa wajib menjawabnya. Barangkali ada juga teman lain yang ingin tahu..
Lukisan Pesanan vs Karya Sendiri, Mana Lebih Tinggi Nilainya?
"Night Watch" karya Rembrandt van Rijn

Lukisan Anda kebanyakan karya pesanan atau karya sendiri ?
Saya sering ditanya seperti itu. Pertanyaan pilihan sederhana yang bisa dijawab: .. a) atau b)… Masalahnya sering kali si penanya ini sudah punya kesimpulan salah dalam benaknya, bahwa yang karya pesanan itu rendah nilainya. Sedang karya pribadi, karya yang dibuat atas kemauan sendiri itu lebih tinggi derajatnya. Atau sebaliknya, ada juga yang justru bersikap, karya yang pesanan dianggap tinggi, sedangkan karya pribadi dianggap rendah.
Stop Kehancuran..!.. Bersatu..: Selamatkan Generasi Anak Bangsa
-->
Karya Herri Soedjarwanto. 126x99cm,Mix media on canvas
Setan mengusung segala kemaksiatan di seputar harta, tahta dan wanita (Korupsi, abuse of power, pornografi)... menyerbu moral bangsa dengan kecepatan tinggi dan kekuatan dahsyat, seolah tak terbendung.. Krisis moral adalah penyebab penting dan utama dari keruntuhan bangsa-bangsa sejak jaman dahulu kala.
Tragedi WTC 911, catatan dan renungan.
" Menebar Cinta, Mencegah Teror "
Karya Herri Soedjarwanto oil/canvas, 200 x 120cm
Tragedi WTC 11 September 2001 adalah sebuah tragedi besar dan dahsyat yang menimpa kemanusiaan. Tragedi yang mengguncang perasaan umat manusia sedunia. Sangat disesalkan dan dikutuk karena sangat melukai rasa kemanusiaan siapapun, tak peduli apa warna kulitnya, kebangsaannya maupun agamanya. Suatu peristiwa tragis yang seharusnya tak usah, tak perlu dan jangan sampai terjadi lagi.
Karya Herri Soedjarwanto oil/canvas, 200 x 120cm
Tragedi WTC 11 September 2001 adalah sebuah tragedi besar dan dahsyat yang menimpa kemanusiaan. Tragedi yang mengguncang perasaan umat manusia sedunia. Sangat disesalkan dan dikutuk karena sangat melukai rasa kemanusiaan siapapun, tak peduli apa warna kulitnya, kebangsaannya maupun agamanya. Suatu peristiwa tragis yang seharusnya tak usah, tak perlu dan jangan sampai terjadi lagi.
Dari sisi lain, tragedi WTC 9-11 adalah sebuah tonggak peringatan monumental bagi kemanusiaan dan umat manusia, untuk mawas diri dan segera menyadari bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Ada yang salah dalam cara mengelola kemanusiaan ini.
Menebar Cinta, Mencegah Teror ( detil lukisan )
Karya Herri Soedjarwanto
Ada proses dialog yang terhenti, buntu. Ada rasa saling curiga. Ada yang coba
Meriam Bambu mainan tradisional anak Nusantara
Meriam Bambu di Jawa dan Bali
Meski sudah jarang terlihat di tengah kota , meriam bambu ( long bumbung, Jawa ) masih sering terlihat di pinggiran kota maupun di desa-desa di Jawa, Bali maupun (mungkin) di pulau-pulau lain (semasa kecil, saya di Kalimantan Selatan pun sering bermain meriam bambu bersama teman-teman).
Salah Kaprah tentang Realisme
![]() |
"The Potato Eaters" karya Vincent Van Gogh. |
Ketika Vincent Van Gogh melukis "Para pemakan kentang" dia bermaksud menceritakan tentang penderitaan para pekerja tambang yang serba sulit, betapa mereka dengan tangan yang masih kotor sehabis bekerja langsung meraup makanan... karena saking laparnya.....Tapi para pengamat cenderung lebih membicarakan dan berdebat soal goresan, komposisi, garis, bidang, warna, dan hal-hal lain yang sifatnya teknis soal lukisan Van Gogh.
Pablo Picasso sepanjang hidupnya, sejak muda sampai tua, melukis dalam berbagai corak. Mulai dari realisme, impressionisme, ekspresionisme, sampai ke kubisme yang merupakan corak temuannya.
Pablo Picasso sepanjang hidupnya, sejak muda sampai tua, melukis dalam berbagai corak. Mulai dari realisme, impressionisme, ekspresionisme, sampai ke kubisme yang merupakan corak temuannya.
Renungan 17-an : : anak-anak merah putih
Seorang bocah sedang makan singkong dengan piring bututnya.. sambil melamun... alangkah gagah dan kerennya anak-anak yang tadi dilihatnya berparade drum band di sepanjang jalan raya dalam rangka HUT Kemerdekaan RI..
[Bocah dalam lamunannya (yang diatas) mengenakan baju warna merah yang mengkilap… sedang dia sendiri (dibawah) memakai baju warna putih yang compang camping dan lusuh… ]
Si bocah hanya bisa melamun dan berkhayal...”… alangkah gagah dan bangganya seandainya aku yang main drumband ...” katanya dalam hati , tanpa mengetahui bahwa sejatinya dia berhak untuk mendapat kesempatan itu…Apa boleh buat… dia harus menggelandang di jalanan.. tak bersekolah… Impian sederhana untuk sekedar bermain drumband dan berbaris dengan gagah saja, sulit diraihnya… entah lagi masa depannya kelak,…
Lihat lukisan & tulisan terkait
“Kami Anak Indonesia Juga lho….”
Lukisan realisme tentang anak-anak Indonesia Karya Herri Soedjarwanto
Hari Anak Nasional (23 Juli) tahun ini, juga HUT Kemerdekaan RI yang ke 65 kali ini , mestinya membuat kita menunduk dan merenung lebih dalam, karena banyaknya anak-anak Indonesia yang masih bermasalah. Baik di kota maupun di desa. Padahal mereka adalah generasi penerus bangsa ini. Masih banyak anak yang kekurangan gizi..busung lapar bahkan mati kelaparan. Jutaan anak tak berpendidikan, jutaan putus sekolah, jutaan pekerja anak, jutaan anak jalanan, anak terlantar … dengan segala ekses negatifnya… narkoba… psk anak… kekerasan terhadap anak, kriminalitas… dan masih sederetan panjaaang lagi…
Saya termasuk yang banyak “mencatat” kedalam lukisan (melukis) tentang anak-anak yang terpinggirkan ini. Beberapa diantaranya secara bertahap akan saya tayangkan disini
![]() |
| "Makan malam" karya: Herri Soedjarwanto |
Di tepi jalan, didepan sebuah gedung bioskop, dibawah poster film “American Fever”, di tengah lalu lalang ceria orang mencari hiburan malam…. seorang anak dengan bapaknya duduk bersimpuh di trotoar sedang menikmati makan malam mereka, dari hasil meminta-minta. Sang bapak memegang batok kelapa sebagai ganti piring….. dan merekapun makan sebatok berdua.
![]() |
| "Bocah-bocah Stasiun"oil / hardboard 70x90cm karya Herri Soedjarwanto. Koleksi Boss BNI Pusat Jakarta |
Sekumpulan anak jalanan di sebuah stasiun, ada penjual koran, penjaja es lilin, dan seorang bocah penyemir sepatu yang sedang menghisap rokoknya. Koran di tangan si anak bertanggal 23 Juli , dan terdapat logo Hari Anak Nasional…. Jam di stasiun menunjuk pukul 08:20 pagi, saat dimana seharusnya anak-anak sedang bersekolah. Di latar depan ada sobekan koran bertuliskan "..Saya Anak Indonesia…".. terbuang dalam kotak sampah…
![]() |
| "Bayi Rakyat", oil/canvas, 90x120cm. Karya: Herri Soedjarwanto Koleksi Boss BNI Pusat Jakarta |
Seorang bayi yang masih merah, terpaksa ditinggalkan ibunya dan dipasrahkan kepada kakak-kakaknya yang masih bocah pula. Si Ibu harus pergi mencari nafkah dengan berjualan masakan di pasar.
Nampak si bayi dalam dekapan dan ditunggui kakaknya yang masih kecil-kecil didalam ruang dapur yang runtuh sebagian temboknya. Di sekitarnya berserak alat-alat dapur bekas memasak. Di dekatnya nya seekor anjing kampung sedang mengintai kesempatan mencuri makan. Di luar , si ibu sedang berangkat , menyunggi meja terbalik di kepalanya. Di meja itu diletakkan panci masakan, piring , gelas periuk, kompor dan alat berjualan lainnya.
CATATAN "Bayi Rakyat": Yang kulukis diatas adalah sebuah kejadian nyata yang kulihat dengan mata kepala sendiri, rutin, setiap hari, selama satu bulan penuh..
Ceritanya aku sedang membuat lukisan pemandangan alam “Sudut Desa Pejeng, Bali”. Lukisan Desa Pejeng itu kukerjakan secara langsung di depan obyeknya setiap hari (jam 6-9 pagi) selama30 hari penuh.
Nah… posisiku melukis, pas disebelah rumah si bayi itu. Beberapa hari setelah lukisan itu selesai, barulah aku garap lukisan “Bayi Rakyat” ini.
![]() |
| 'Sudut Desa Pejeng, Bali" karya: Herri Soedjarwanto |
CATATAN "Bayi Rakyat": Yang kulukis diatas adalah sebuah kejadian nyata yang kulihat dengan mata kepala sendiri, rutin, setiap hari, selama satu bulan penuh..
Ceritanya aku sedang membuat lukisan pemandangan alam “Sudut Desa Pejeng, Bali”. Lukisan Desa Pejeng itu kukerjakan secara langsung di depan obyeknya setiap hari (jam 6-9 pagi) selama30 hari penuh.
Nah… posisiku melukis, pas disebelah rumah si bayi itu. Beberapa hari setelah lukisan itu selesai, barulah aku garap lukisan “Bayi Rakyat” ini.
Lukisan Pemandangan Alam , Panorama yang Indah , Landscape….
-->
![]() |
| "Landscape Gunung Bromo", oil/canvas 125x250cm. karya: Herri Soedjarwanto. Koleksi : Gedung Negara Grahadi , Surabaya. |
Mungkin itulah sebabnya mengapa para maestro, pelukis terkenal dan ternama seperti Raden Saleh, Basuki Abdullah, Dullah, dan bahkan pelukis terkenal di dunia seperti Rembrandt, Van Gogh.. dll, banyak juga yang melukis pemandangan alam, meskipun sebetulnya mereka bukanlah “pelukis pemandangan”.
Bagi para peminat / kolektor lukisan yang setiap hari sudah dipusingkan dengan urusan bisnis yang menyesakkan, maka memasang lukisan pemandangan di ruang kerjanya bagaikan melongok keluar sebuah jendela berpanorama indah , ventilasi yang menyejukkan, menentramkan, menerawangkan pikiran.. membantu refreshing… bahkan mungkin membantu memecahkan masalah…
![]() |
| " Suasana Pagi di Padepokan Klampis Ireng" Purisemanding. Karya: Herri Soedjarwanto |
Kanjeng Ratu Kidul, Penguasa Laut Selatan ( *update )
![]() |
| "Kanjeng Ratu Kidul" (150x120cm) karya Herri Soedjarwanto Difoto indoor dengan memakai lampu blitz / flash |
"Ratu Kidul dan Dunia Mitos Kita"
di Balai Soedjatmoko ( Bentara Budaya-nya Solo) tgl 24-30 April 2010, dan dimuat di katalog pameran.
Pameran dikuti pelukis senior yang cukup ternama seperti Djoko Pekik, Ivan Sagito, Nasirun, I Gusti Nengah Nurata, Suatmadji dan lain-lain.
(klik disini untuk melihat resensinya di kompas.com) Catatan: Agak mustahil bagi anak Jawa untuk tak mengenal atau tak pernah dengar sama sekali tentang mitos yang sangat melegenda : Nyi Roro Kidul. Setidaknya dari yang saya alami sendiri, ada tiga episode berbeda dalam pikiran dan perasaan saya, yang merupakan proses belajar dan pencerahan diri dalam menyikapi ‘keberadaan’ Nyi Roro Kidul.
![]() |
| Kanjeng Ratu Kidul (croping), difoto outdoor tanpa blitz. (sebagai perbandingan warna) |
Beranjak muda remaja, mulai muncul gambaran Nyi Roro kidul yang cantik tapi masih tetap dengan sifat yang menakutkan...Bayangan tentang sifat yang menakutkan inipun berangsur menipis, bahkan sosok Nyi Roro Kidul sendiri berangsur hilang (bukan terhapus), sembunyi dari pikiran sadar.
Hal ini terjadi bukan karena “mengerti”, atau mendapat info yang benar, tapi lebih karena dilawan dan ditekan keras oleh rasio, dan ‘akal sehat’ yang dengan arogan (seolah) ‘selalu menang dan benar’ dengan mengatakan :”.. ah itukan hanya mitos yang dibuat untuk tujuan politis...”
Hal ini terjadi bukan karena “mengerti”, atau mendapat info yang benar, tapi lebih karena dilawan dan ditekan keras oleh rasio, dan ‘akal sehat’ yang dengan arogan (seolah) ‘selalu menang dan benar’ dengan mengatakan :”.. ah itu
Setelah lewat waktu yang panjang, secara kebetulan dan tak sengaja, sering kontak dengan orang-orang yang “ngerti”dunia lain, maka mulai terbuka mata hati ini. Saya menjadi tahu bahwa ada dua sosok yang berbeda, Nyi Roro Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul.
Konsep Lukisan:
Beliau Kanjeng Ratu Kidul adalah seorang Ratu yang sangat cantik jelita, seorang wanita sakti yang baik hati, mempesona, berakhlak mulia, lurus dan kuat keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan Sang Ratu yang mulia dan mempesona ini menarik perhatian bangsa lelembut /makhluk halus/ jin. Mereka menilai beliau akan mampu memimpin, mengajari, mengarahkan bahkan menyelamatkan mereka sampai ke akhirat, saat kiamat nanti. Merekapun bersepakat memohon beliau untuk menjadi Ratu mereka.
Dengan ikhlas beliau menerima dan berpindah dari alam manusia ke alam gaib di laut selatan.. Maka jadilah Kanjeng Ratu Kidul yang mulia ini menjadi penguasa para lelembut , bertahta di Laut Selatan…
Dengan ikhlas beliau menerima dan berpindah dari alam manusia ke alam gaib di laut selatan.. Maka jadilah Kanjeng Ratu Kidul yang mulia ini menjadi penguasa para lelembut , bertahta di Laut Selatan…
Sedangkan yang selama ini membuat citra negative dengan isu-isu menakutkan adalah sang patih / senopati Kanjeng Ratu Kidul yang ber nama Nyi Roro Kidul, atau pengikut dan peniru yang lain yang mengaku-aku. Karena (mungkin) itu memang ‘tugas asli’ kaum mereka untuk menyesatkan manusia yang ‘sengaja minta disesatkan”… entahlah …wallahu alam. ( herri soedjarwanto )
( info :Lukisan ini dan kisah pembuatannya, dimuat di majalah Misteri nomor 493, edisi awal Agustus 2010. Halaman 120-121. ) Mau lihat/baca? silahkan klik kanan gambar majalah di bawah ini.
Herri Soedjarwanto demo melukis di Bali (InterContinental Bali Resort, Jimbaran)
![]() |
| Herri melukis Tari Oleg saat menari, dilanjutkan pose duduk. |
Sebagai satu-satunya pelukis realis, Herri Soedjarwanto didaulat untuk demo melukis langsung dalam acara penbukaan dan penutupan pameran, ditengah-tengah para tamu undangan asing dan pejabat yang hadir.
![]() |
| Hasil akhir lukisan "Oleg Tamulilingan" karya Herri |
![]() |
| Herri Soedjarwanto melukis Tari Kecak on the spot. |
![]() |
| Hasik akhir lukisan : "Tari Kecak" karya Herri |
Leonardo da Vinci, Dullah & Affandi vs S.Sudjojono ?? …ah..enggaakk…
"affandi sang maestro" karya herri soedjarwanto
"Wahai seniman, engkau adalah milik dirimu sendiri. Dalam kesendirianmu itulah terletak kekuatanmu… kalau kau berteman dengan satu orang , maka engkau hanya memiliki separuh dari dirimu.. Semakin banyak teman yang kau miliki semakin sedikit kau memiliki dirimu…yang berarti semakin sedikit pula kekuatanmu…"(Leonardo Da Vinci )
Saya anak muda yang masih 'ijo' ketika membaca buku catatan harian Giovanni Beltrafio murid Leonardo Da Vinci. Di satu bagian dia menceritakan bahwa dia dan teman-temannya mendengar wejangan sang guru, yang seniman dan manusia besar itu,... (seperti yang tertulis diatas).
Nah… kebayang kan?.. gimana pengaruh sabda "nabi"nya seniman setingkat Da Vinci itu buat seniman pemula, belasan tahun yang masih labil dan butuh pegangan kaya' saya ?..( kalau pakai contoh mutakhir... ibaratnya ketemu tokoh "kharismatik" seperti Nurdin M top, maka ...disuruh bunuh diri ngebom pun nurut saja..)
Jadi, mulai saat itu saya hidup dalam 'kesendirian' karena ingin 'kekuatan penuh', full power.. konsentrasi, focus agar bisa menciptakan karya yg lebih kuat. dan lebih cepat selesai…
Waktu itu saya sudah hidup seatap dengan Dullah (pelukisnya Bung Karno) di Bali, disebuah desa terpencil, desa Pejeng…
Nah… tentu kata-kata pak Affandi ini semakin menambah keyakinan saya terhadap siklus :' kesendirian ' kekuatan penuh ' kerja keras ' sukses....
Sampai suatu kali saya melihat kisah tetangga saya.
"menempa besi" karya herri soedjarwanto
Tetangga jauh saya ini, orang desa Pejeng asli, ingin anaknya sekolah tinggi, selain kebanggaan juga agar bisa merobah nasib keluarga..Maka dia jual sapi dan sedikit tanahnya, untuk membeayai anaknya kuliah di Denpasar. Berapa tahun kemudian si anak di wisuda, jadi sarjana.. tapi tak lama kemudian ia pulang lagi ke desa dan kembali menggembala sapi seperti dulu..!!.
Ternyata, anak baik ini sadar pengorbanan orang tuanya, ia tekun sekali belajar, kutu buku, sampai kurang bergaul, tak punya teman, sendirian dan tak mampu beradaptasi dengan kehidupan kota…
Saya agak goyah, apa Da Vinci salah? saya renungkan ulang kata-katanya…
Masa-masa itu, saya bertemu S.Sudjojono ( bapak senilukis modern Indonesia ), yang sedang melukis di Bali. Pada beliau saya tanya hal yang sama, kiat sukses pelukis.. dan Sudjojono menjawab:
" Ada dua…: 1- Kwalitas karya. 2- Tersebar luas. Kedua-duanya harus bersamaan… Kwalitas bagus tapi hanya tergantung di dinding kamar thok , ya tak bisa sukses.. sebaliknya tersebar luas, tapi kwalitasnya buruk, ya malah jadi bumerang.. ya jatuh...
Tiinggg…ada sedikit pencerahan,..jadi yang dimaksud Da Vinci dengan kata-katanya diatas adalah untuk pencapaian kwalitas... Sedangkan tersebar luas, menunjuk kearah pergaulan ,pertemanan , jaringan… dan seterusnya..ya harus di upayakan.. apalagi di jaman internet seperti sekarang ini.. Tentu takkan mau kita, punya karya berkwalitas tapi tak ada yang tahu karena tak tersebar luas...
Jadi… Da Vinci nggak salah… tapi… akunya saja yang bodo, menelan mentah kata-kata.... Jadi ?… renung kan saja sendiri, …saya tahu dan yakin Anda lebih pintar daripada saya...
![]() |
| Lukisan potret wajah Affandi karya Herri Soedjarwanto. Sketsa pertama dibuat langsung dg model Affandi, di Museum Affandi, Jogja. |
Saya anak muda yang masih 'ijo' ketika membaca buku catatan harian Giovanni Beltrafio murid Leonardo Da Vinci. Di satu bagian dia menceritakan bahwa dia dan teman-temannya mendengar wejangan sang guru, yang seniman dan manusia besar itu,... (seperti yang tertulis diatas).
Nah… kebayang kan?.. gimana pengaruh sabda "nabi"nya seniman setingkat Da Vinci itu buat seniman pemula, belasan tahun yang masih labil dan butuh pegangan kaya' saya ?..( kalau pakai contoh mutakhir... ibaratnya ketemu tokoh "kharismatik" seperti Nurdin M top, maka ...disuruh bunuh diri ngebom pun nurut saja..)
Jadi, mulai saat itu saya hidup dalam 'kesendirian' karena ingin 'kekuatan penuh', full power.. konsentrasi, focus agar bisa menciptakan karya yg lebih kuat. dan lebih cepat selesai…
Waktu itu saya sudah hidup seatap dengan Dullah (pelukisnya Bung Karno) di Bali, disebuah desa terpencil, desa Pejeng…
Tiap hari saya saksikan dan saya temani pak Dullah melukis dari pagi hingga esok pagi lagi.., tidur hanya 2 jam setelah subuh dan 2 jam di sore hari…( dalam arti harafiah…sungguh.. nggak bohong ).. Situasi dan kondisi semacam itu , dan dicontohkan langsung oleh pak Dullah, tentu saja sangat kondusif menyuburkan pemahaman saya tentang wejangan Da Vinci diatas.
Suatu hari pak Affandi mampir ke Sanggar Pejeng. Saya Tanya, apa rahasianya agar bisa sukses jadi pelukis seperti beliau… "… ada 3 hal agar sukses". Kata beliau ." Satu: kerja keras… dua : kerja keras… dan kemudian ke tiga : kerja keras …!!"Nah… tentu kata-kata pak Affandi ini semakin menambah keyakinan saya terhadap siklus :' kesendirian ' kekuatan penuh ' kerja keras ' sukses....
Sampai suatu kali saya melihat kisah tetangga saya.
"menempa besi" karya herri soedjarwanto
Tetangga jauh saya ini, orang desa Pejeng asli, ingin anaknya sekolah tinggi, selain kebanggaan juga agar bisa merobah nasib keluarga..Maka dia jual sapi dan sedikit tanahnya, untuk membeayai anaknya kuliah di Denpasar. Berapa tahun kemudian si anak di wisuda, jadi sarjana.. tapi tak lama kemudian ia pulang lagi ke desa dan kembali menggembala sapi seperti dulu..!!.
Ternyata, anak baik ini sadar pengorbanan orang tuanya, ia tekun sekali belajar, kutu buku, sampai kurang bergaul, tak punya teman, sendirian dan tak mampu beradaptasi dengan kehidupan kota…
Saya agak goyah, apa Da Vinci salah? saya renungkan ulang kata-katanya…
Masa-masa itu, saya bertemu S.Sudjojono ( bapak senilukis modern Indonesia ), yang sedang melukis di Bali. Pada beliau saya tanya hal yang sama, kiat sukses pelukis.. dan Sudjojono menjawab:
" Ada dua…: 1- Kwalitas karya. 2- Tersebar luas. Kedua-duanya harus bersamaan… Kwalitas bagus tapi hanya tergantung di dinding kamar thok , ya tak bisa sukses.. sebaliknya tersebar luas, tapi kwalitasnya buruk, ya malah jadi bumerang.. ya jatuh...
Tiinggg…ada sedikit pencerahan,..jadi yang dimaksud Da Vinci dengan kata-katanya diatas adalah untuk pencapaian kwalitas... Sedangkan tersebar luas, menunjuk kearah pergaulan ,pertemanan , jaringan… dan seterusnya..ya harus di upayakan.. apalagi di jaman internet seperti sekarang ini.. Tentu takkan mau kita, punya karya berkwalitas tapi tak ada yang tahu karena tak tersebar luas...
Jadi… Da Vinci nggak salah… tapi… akunya saja yang bodo, menelan mentah kata-kata.... Jadi ?… renung kan saja sendiri, …saya tahu dan yakin Anda lebih pintar daripada saya...
Langganan:
Postingan (Atom)























